INCLUDE_DATA

Transformasi Wireline Access

Hari ini saya cukup tergelitik membaca sebuah tulisan di portal internal Telkom Sumatra dengan judul “Wireline : Perhatikanlah Daku !”. Sebuah judul tulisan yang dapat memancing rasa ingin tahu dari pembacanya tentang apakah sudah terabaikannya jaringan akses kabel (wireline) di dalam pengelolaan bisnis telkom saat ini ?. Ada nuansa pesimis dari judul tulisan tersebut dan ada perasaan sepertinya bisnis yang berbasis wireline access perlahan tapi pasti sepertinya akan terpinggirkan begitu saja setelah bertahun-tahun mengisi pundi-pundi revenue Telkom.

Padahal, saat selesainya peringatan HUT RI ke 63 di Kantor Pusat Telkom di Bandung tanggal 17 Agustus 2008 yang lalu, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Rinaldi Firmansyah telah meluncurkan uji coba produk dan layanan Triple Play Services (voice, data dan video). Peluncuran produk dan layanan ini lebih disebabkan revenue dari layanan voice sudah terganggu oleh persaingan harga yang sangat ketat dari para kompetitor dan bahkan mengalami penurunan yang cukup signifikan, sehingga penyelenggara telekomunikasi memerlukan cara-cara baru untuk menarik, mempertahankan pelanggan serta memperbaharui revenue-nya.

Salah satu yang mendukung menjadi menariknya layanan yang berbasis Triple Play Services ini adalah sekaligus diluncurkannya juga layanan IPTV (Internet Protocol Television). Keberadaan teknologi Internet Protocol Television atau IPTV diyakini bakal menggeser dan menjadi pesaing baru dalam bisnis televisi berlangganan, khususnya televisi kabel atau satelit. Akan tetapi, untuk sementara konsumen IPTV ini masih terbatas kalangan menengah atas.

Menurut Manajer Pengembangan Bisnis PT. Cisco Systems Indonesia Tony Seno Hartono, TV kabel berlangganan akan mendapat pesaing baru dari pengembangan teknologi berbasis internet yang bisa mengirimkan data berbentuk video. Terlebih lagi, teknologi itu memanfaatkan jaringan kebel telepon yang sudah banyak tersambung di rumah-rumah konsumen. Akibatnya, operator tidak perlu lagi membuat jaringan baru yang memakan biaya besar.

Sebab, melalui pengembangan teknologi yang kini digalakkan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, satu kabel bisa dimanfaatkan untuk berbagai layanan pengiriman data, termasuk suara dan video. ”Sehingga, bila sebuah rumah sudah dimasuki kabel berkemampuan IPTV, rumah itu tidak perlu lagi langgan TV kabel atau satelit. Bisa dibilang, ini ancaman baru bagi penyedia TV kabel atau satelit,” ujar Tony.

Berbagai macam kelebihan yang ditawarkan IPTV ketimbang TV kabel atau satelit, salah satunya kemampuan untuk merekam atau menghentikan gambar (pause) saat tayangan tersebut disiarkan. Bahkan, tayangan itu bisa diakses secara mobile tanpa harus berada di dalam rumah. Sebab, terdapat alat yang disebut set of box, yang berfungsi seperti decoder, sehingga melalui internet, tayangan itu dapat dinikmati dari jarak jauh.

Kelebihan lainnya, seperti dijelaskan Chief Technical Officer Alcatel di Indonesia Dirk Wolter, IPTV yang diluncurkan Alcatel menyediakan layanan komunikasi melalui televisis dan nonton bareng bersama sesama pelanggan IPTV. Alcatel juga menyediakan fasilitas kepda pelanggan untuk membuat tayangan televisi sendiri yang dapat dinikmati pelanggan lainnya.

Sayangnya, diakui Dirk, harga layanan IPTV yang ditawarkan kepada masyarakat di Bandung, maupun di kota-kota lain, masih terlalu tinggi, sehingga belum bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, segmen yang ditarget awal pelanggan IPTV ini masih pasar menengah atas, hotel-hotel, maupun penghuni apartemen.

Mengenai tarif, harga langgan yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan TV kabel satelit, berkisar Rp. 300.000,- per bulan, ditambah perlengkapan decoder yang harganya kurang dari Rp 1 Juta. Setiap kanal televisi hanya menggunakan sekitar 2-4 mega bite per second (Mbps) dengan kualitas gambar yang setara dengan tayangan TV yang saat ini sudah ada, bahkan tersedia tayangan dengan layanan multilingual.

”Di Indonesia, sebaiknya IPTV dikenalkan dengan flat tariff, sebab model pembayaran itu yang lebih disukai konsumen kita,” kata Tony.

Menurut Tony, sejumlah kota besar, termasuk Bandung, saat ini sudah bisa mengakses IPTV, melalui jaringan kabel telepon ataupun kabel listrik. Idealnya, jaringan itu membutuhkan kualitas kabel yang bagus, tetapi kebanyakan kabel yang sudah terpasang banyak  yang berkualitas rendah.

Dirk menambahkan, tahun 2009 nanti, akses IPTV sudah bisa mulai dinikmati di Bandung, meskipun belum semuanya wilayah terlayani dengan baik. ”Murah atau tidak harganya, serta kapan IPTV mulai bisa dinikmati masyarakat bergantung kemampuan operator menyediakan jaringan yang memadai,” kata Dirk.

————————————

IPTV dan VOD, saat ini menjadi layanan baru, yang di banyak negara diluncurkan oleh Telco’s (pemain tradisionil penyedia telekomunikasi di bidang telekomunikasi. Layanan ini mulai memasuki pasar dan berkompetisi dengan layanan TV standar yang dipancarkan melalui satelite, terestrial, dan kabel.

Besar lintasan data (bandwidth) jaringan broadband yang terus meningkat, makin canggihnya teknologi kompresi, dan arsitektur distribusi baru membuat penyediaan layanan IPTV/VOD secara teknik memungkinkan. Secara signifikan, pasar juga terus membutuhkan pasokan konten-konten digital yang lebih banyak.

Disinilah Telco’s dapat mulai mencari kemungkinan pertumbuhan baru, sebagai ganti dari sudah stagnannya pertumbuhan pendapatan dari layanan telpon tradisional. Secara bersamaan, Telco’s mendapatkan ancaman dari penyedia jasa berbasis kabel konvensional dan mulai masukknya perusahaan-perusahaan energi ke bisnis data melalui jaringan distribusi energinya (contoh: PLN yang mulai ikut bermain di bisnis internet).

Komponen-komponennya IPTV/VoD

Internet-Protocol Television (IPTV) adalah penyediaan layanan streaming tv secara langsung via jaringan IP berbandwitdh lebar. Layanan ini bersifat multicast, dari satu sumber untuk banyak pengakses secara bersamaan. Video on Demand (VoD) adalah penyediaan layanan video yang diminta secara khusus oleh pengakses. Secara umum ini adalah layanan video streaming unicast, yang dideliver ke satu pelanggan.

IPTV dan VoD keduanya masuk kategori layanan berkualitas siaran TV. Artinya pelanggan akan menikmati layanan sekualitas TV satelit dan kabel yang sekarang umum kita nikmati. Standar siaran TV ini saat ini hanya bisa dilayani oleh provider berbasis satelit dan kabel dalam group tertutup. Internet IPTV dan internet VoD yang merupakan implementasi awal dari kedua layanan diatas, kualitasnya belum layak disandingkan dengan kualitas siaran TV.

Jenis-jenis Servis IPTV/VoD

IPTV/VoD tidak hanya menyediakan jasa video, beberapa servisnya meliputi:

Servis TV, video yang dipancarkan dalam waktu yang terjadwal, persis layanan TV konvensional. Pengembangan servis ini, bisa dengan membuat kanal-kanal yang khusus, misalnya, khusus memasak, khusus olahraga dll. Service VoD, Video yang dihantarkan ke pelanggan sesuai pilihan mereka.

Personal Video Recorder (PVR), Alat perekam yang akan merekam siaran untuk diputar dilain waktu. Network Personal Video Recorder (NPVR), versi jaringan dari PVR, NPVR tidak mesti ditempatkan di rumah pelanggan. Electronic Program Guide (EPG), layanan yang memberikan info program-program eksisting dan program-program kedepan dari layanan.

Information Services, layanan bersifat informasi, berita, laporan cuaca dll. Interactive TV, TV Show, dimana pelanggan bisa interaktiv. Interactive Applications, permainan yang dapat dideliver dengan mode broadcast, namun memanfaatkan kelebihan sifat interaktifnya. Permainan dapat berupa singleplayer atau mulitplayer antar pelanggan. Broadband Applications, video conferencing, e-Learning, dan security monitoring.

Keuntungan Implementasi IPTV

Penyediaan jasa IPTV menggunakan IP network berimplikasi positif pada efisiensi penggunaan jaringan. Jaringan IP, trafiknya dapat diatur sedemikian rupa, sehingga beberapa jenis paket bundling bisa dilewatkankan di atasnya. Selain itu terdapat kelebihan yang secara signifikan membedakan dari TV konvensional adalah, dapat disediakannya layanan yang bersifat interaktif seperti misalnya Video on Demand, ketimbang siaran TV lama yang lebih bersifat broadcast satu arah saja.

Sebagaimana disampaikan di atas, dasar dari layanan IPTV adalah triple play, dimana data video, audio, dan data dipertukarkan didalam jaringan tempat layanan di deliver. Berikut adalah tahapan dari transformasi yang mesti dilakukan untuk mempersiapkan support arsitektur jaringan untuk layanan IPTV.

Dari Teknologi ATM ke IP

Backbone (jalur data) lokal dan link intrnasional memegang peranan penting dalam delivery layanan broadband khususnya IPTV, strategi yang dapat dilakukan pada sisi ini adalah :

Pertama, upgrade ATM DSLAM ke IP DSLAM, yang menghasilkan jaringan yang lebih scalable. Kedua, merubah pola koneksi yang komplek menjadi sederhana, misalnya dengan membuat Zero Configuration di sisi pelanggan. Ketiga, melakukan distribusi Node-Node broadband, misalnya BRAS, agar pelanggan akhir mendapatkan akses terdekat ke network provider. Keempat, memperbesar resource-resource network, membangun high speed backbone misalnya, agar tidak terjadi bottle neck di jaringan penyedia layanan.

Penyiapan infrastruktur broadband

Terdapat beberapa bagian terintegrasi yang memungkinkan terselenggaranya layanan IPTV:

Pertama, universal broadband access, bagian paling dekat ke sisi pelanggan ini menuntut update yang cepat dalah hal teknologi dan kemudahan delivery. Upgrade teknologi pendukung layanan. Kebanyakan layanan broadband saat ini di dukung tekonologi Lite DSL yang merupakan seri pertama dari teknologi broadband berbasis DSL (Digital Subscriber Line). Untuk ke depan, paling tidak teknologi pendukungnya harus dapat mensupport ADSL2+ dan VDSL, agar layanan-layanan audio-video, dapat di deliver ke pelanggan.

Kedua, data aware transport, bagian ini harus dibangun dengan perspektiv penjagaan kualitas terhadap data yang disalurkan. IPTV adalah layanan dengan konten yang berkualitas tinggi, pengurangan yang terjadi akan mempengaruhi kualitas layanan.

Ketiga, service aware edge, bagian ini bertanggung jawab terhadap delivery layanan sebagai sebuah servis yang mempunyai kualitas tertentu. Bagian inilah yang secara revolusioner merubah internet IPTV/VoD menjadi murni layanan IPTV dan VoD, karena kualitas servis dideliver di bagian ini.

Keempat, service network, bagian ini memastikan data-data yang merupakan bagian utama dari layanan dapat dihantarkan ke tempat-tempat/lokasi yang berada jauh dari NOC (Network Operation Centre, Kantor Pusat penyedia layanan) secara baik dan terjaga kualitasnya.

8 Responses

  1. avatar Jeff Atkinson Says:

    Hello. I was reading someone elses blog and saw you on their blogroll. Would you be interested in exchanging blog roll links? If so, feel free to email me.

    Thanks.

  2. avatar imans Says:

    Kuncinya memang ada di kabel. Perlu usaha dan kerja keras menjadikan semua kabel yang sudah lama eksis menjadi ‘bergairah’ kembali.

    BTRK menjadi kata kunci yang tidak bisa ditawar lagi.

    Nah, bagi RK yang sudah dilabel Prima, sudah selayaknya disasar pelanggannya untuk mencoba IPTV ini. Trial dulu juga oke-oke saja asalkan kita dapat feedback dari pelanggan.

  3. avatar natha Says:

    Wah,..keren ulasan tehnologi wirelene accessnya.

    Kalau boleh tau, ada spek tentang standararisasi jarkab-nya ngak ya., mengingat usia kabel Telkom khan dah pada …?, trus apa Telkom dah melirik ke bisnis beginian.?, pls donk bocoran-nya

    tks infonya pa, kami tunggu info selanjutnya, salam @natha.

  4. avatar ayi Says:

    ..pastinya hal ini menjadi harapan kita semua, bahwa layanan triple play Telkom akan disambut positif oleh masyarakat. kalo dah gitu, ini akan menjadi tonggak geliat kebangkitan wireline. sejarah dipastikan akan berulang, di mana masyarakat akan berlomba-lomba memiliki (kembali) akses layanan wireline..

    satu hal yang pasti, meski sekali lagi- dengan berbagai pertimbangan Triple play baru diuji cobakan di Jawa, Sumatra pastinya tetap siap menyambut kedatangan layanan ini kapan saja kan pak.. toh bagi kita, wireline memang a never ending business.. tetap semangaat!!

  5. avatar Syaiful Hadi Says:

    Sikap pesimis itu adalah kondisi ril karyawan Telkom. Ephoria wireless memang membuat wirelie seperti jatuh pamor dan diduga akan menjadi barang busuk. Lebih ekstreem lagi, dengan opini itu, banyak yang pula orang melakukan kalkulasi bahwa Telkom pun akan menjadi dinosaurus.

    Tapi Alhamdulillah, petinggi Telkom (salut saya pribadi u/ pak EDA) yang begitu gigih untuk membalikkan keadaan. Dengan broadband, kini Telkom punya masa depan lagi. IPTV adalah solusi komunikasi masa depan.

    Mari kita komunikasikan, kita gelorakan harapan baru itu. Masih ada fajar yang menyingsing besok hari. Masih ada waktu untuk berbenah. Mari kita tanam ‘asa’ seperti matahari yang tidak pernah berhenti menyiramkan cahaya ke bumi.

    Inilah tugas besar kita p’ Awal.
    Salam ku — full —

  6. avatar Dikhyah D Says:

    Terima kasih Pak atas informasinya,

    Ini pasti akan melegakan temens bahwa kita masih bisa sempet makan. Sebagai info tambahan, dari laporannya bisnis indonesia (28/8, menurut laporan Mike paxton (In-Sat) disebutkan bahwa ditengah serbuan layanan seluler, populasi pelanggan telepon kabel dunia terus tumbuh. Antara Juni 2007 dan Juli 2008 terjadi penambahan 8 juta pelanggan.

    Dan masih menurutnya, hingga kini diperkirakan jumlah pelanggan telepon kabel di seluruh dunia mencapai 37 SST

  7. avatar sith Says:

    saya ingin tahu tentang wireline, tapi saya tidak tahu harus mencari kemana. bisa bantu saya situs apa yang memuat tentang wireline.terimakasih

  8. avatar satriasyah haris sanjoko Says:

    saya sedang mengerjakan skripsi tentang ioptv
    lebih tepatnya “analisa kelayakan internetprotocol television berbasis openmsource”
    disini saya mncoba menganalisi seberapa layak dalam penggunakan bandwith yang akn dipakai untuk iptv in.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.