INCLUDE_DATA

TELKOM Mulai Operasikan Layanan Home Digital Services

Jakarta, 3 September 2010 – PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) mulai menggelar layanan Home Digital Services yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan pelanggan perumahan dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang berbeda dan lebih maju. Home Digital Services dimungkinkan beroperasi menyusul upaya gencar yang dilakukan TELKOM dalam membangun infrastruktur jaringan akses pita lebar (broadband) di berbagai wilayah.

Demikian terungkap dalam acara Buka Puasa Bersama TELKOM-Media Massa yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (3/9). Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah, Executive General Manager (EGM) Divisi Akses Muhammad Awaluddin, serta para redaktur dan wartawan dari berbagai media massa. Beroperasinya layanan Home Digital Services sekaligus membuktikan bahwa TELKOM benar-benar memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan jaringan akses pita lebar sebagai enabler berbagai layanan berbasis TIME (Telecommunication, Information, Media, Edutainment).

Layanan Home Digital Services sudah mulai dan akan digelar di berbagai tempat, antara lain di seluruh High Rise Building (HRB), Kawasan Industri, Kawasan Bisnis, Kawasan Perkantoran (Office), Kawasan Apartemen/Hunian dan Kawasan serta bangunan lain yang dibangun atau dikelola oleh Agung Sedayu Group (ASG). Khusus dengan ASG, TELKOM telah menandatangi nota Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh Direktur Enterprise & Wholesale TELKOM, Arief Yahya dan Direktur Agung Sedayu Group, Alexander Halim Kusumo di Jakarta, Rabu (1/9).

Berdasarkan Kesepakatan Bersama tersebut, maka seluruh HRB dan kawasan yang dikelola ASG nantinya akan memiliki infrastruktur telekomunikasi modern yang dapat dimanfaatkan baik oleh manajemen maupun para penghuni dan tenant. Salah satu teknologi jaringan yang digunakan untuk melayani kebutuhan ASG adalah Fiber To The Home (FTTH) yang merupakan format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia (provider) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik sebagai mediumnya.

Akses FTTH sudah mulai digelar di Green Mansion dan Puri Mansion. Pembangunan kedua perumahan tersebut merujuk pada konsep hunian dan rukan di tengah kota yang serba lengkap dan modern, dengan berbagai fasilitas yang tertata dan didesain dengan nuansa alam. Jaringan akses kecepatan tinggi tak pelak akan menjadi kebutuhan para penghuninya.

Penggelaran infrastruktur FTTH di kawasan maupun HRB yang dikelola ASG sangat tepat, sesuai dengan lifestyle yang berkembang, serta tentunya akan meningkatkan nilai kawasan dan propertinya. Perkembangan FTTH sendiri tidak terlepas dari kebutuhan akan layanan akses pita lebar yang terus meningkat dari semula kebutuhan coverage menjadi kebutuhan bandwidth dan terakhir menjadi kebutuhan keduanya. Sebagai TIME enabler, infrastruktur TELKOM terus disiapkan untuk mampu melayani kebutuhan dimaksud.


Serius Kembangkan Infrastruktur

Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah memaparkan bahwa ada tiga isu kritikal yang harus dan akan dijawab TELKOM dalam menghadapi tantangan pengembangan infrastruktur jaringan pita lebar ke depan seiring dengan usahanya mengembangkan portofolio bisnis TIME. Isu-isu dimaksud adalah: bagaimana menjaga teknologi agar senantiasa mampu mengakomodasi kebutuhan konsumsi bandwidth yang terus meningkat; bagaimana menciptakan pendapatan baru (to generate new revenue); dan bagaimana mempertahankan biaya (to restrain the cost). Isu-isu ini terkait langsung dengan tiga hal, yaitu: ARPU (Average Revenue per User), Bandwidth atau lebar pita, dan Cost.

Kondisi yang tidak diharapkan terjadi tatkala ARPU operator mengalami stagnasi, sementara biaya terus membengkak sebagai konsekuensi dari upaya yang dilakukan terus-menerus oleh operator untuk meningkatkan kapasitas bandwidth demi mengakomodasi kebutuhan pengguna yang terus melambung. Dalam era komunikasi suara (voice era) ketika kebutuhan bandwidth lebih banyak digunakan untuk kepentingan voice, operator bisa memperoleh margin yang bagus. Demikian juga, dalam era pita lebar (broadband era) di mana konsumsi bandwidth cukup besar namun masih dalam batas wajar, operator bisa mendapatkan margin yang bersifat sustainable. Persoalannya, demikian Rinaldi Firmansyah, konsumsi bandwidth akan terus berkembang menuju apa yang disebut sebagai Ultra Broadband Era yang menawarkan begitu banyak peluang, namun bila tidak disiasati dengan baik akan sangat menekan margin operator akibat membengkaknya biaya peningkatan kapasitas bandwidth di tengah stagnannya ARPU.

Upaya TELKOM dalam menghadapi tantangan ini adalah mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-Cost tadi. Di sisi bandwidth, kapasitas terus dikembangkan dengan memanfaatkan serangkaian teknologi seperti Metro Ethernet, Terra Router, GPON for FTTH&M, dan 40G WDM/Ethernet. Di sisi ARPU, TELKOM akan terus mengembangkan berbagai layanan seperti Mobile Internet Application, IPTV, Managed Lease Line, dan Wholesale. Sedangkan di sisi biaya (cost) TELKOM melakukan efisiensi melalui langkah-langkah penyederhanaan arsitektur jaringan, optimasi trafik point-to-point/Video/Mobile Broadband, sinergi IP dan optik, serta pemeliharaan yang mudah dan penetapan lokasi secara cepat.

Sementara itu, EGM Divisi Akses TELKOM Muhammad Awaluddin menyatakan, dalam lima tahun ke depan upaya pengembangan infrastruktur jaringan akses TELKOM akan fokus pada penyediaan fiber access secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung dengan target komposisi jaringan akses FTTE (end-to-end copper) 15%, akses FTTC (Fiber to the Curb) yang menggunakan teknologi MSAN, GPON dan VDSL 70%, serta akses FTTB/H (Fiber to the Building/Home) 15%. Dengan demikian, lanjut Muhammad Awaluddin, akses kabel tembaga (copper) diharapkan sudah tergantikan semuanya oleh serat optik di tahun 2015, paling tidak di kota-kota besar Indonesia.

Ia menekankan, kebijakan transformasi TELKOM menjadi TIME Company perlu didukung transformasi infrastruktur dan sistem, termasuk di sisi jaringan akses. TELKOM akan mengembangkan akses pita lebar dengan tiga segmen sasaran, yaitu: Broadband for Home Digital Environment, Broadband for Enterprise Government, dan Broadband Anywhere. Kerjasama dengan ASG merupakan bagian dari upaya pengembangan Broadband for Home Digital Environment. Konsep Digital Home sendiri meliputi digital home communication, digital home office, digital entertainment, dan digital surveillance & security.


Tingkatkan Terus Kapabilitas Akses

Sebagai konsekuensi perubahan besar-besaran portofolio layanannya ke arah layanan berbasis TIME, TELKOM memberikan perhatian dan upaya yang ekstra terkait pengembangan kapabilitas akses. Kebijakan TELKOM tentang rencana pengembangan akses pita lebar antara lain menyebutkan bahwa kapasitas true broadband (yakni akses dengan kecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps) yang di tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 21% saja, di tahun 2015 akan berkembang menjadi 85%. Saat ini, sebagian besar jaringan akses yang ada masih didominasi kecepatan 1-4 Mbps dan di bawahnya dengan porsi 79%.

Menurut Muhammad Awaluddin, semakin besar kapasitas jaringan akses, semakin besar pula kemampuan jaringan tersebut untuk mengakomodasi berbagai layanan dan aplikasi, termasuk layanan berbasis triple play services yang terdiri dari Data (Internet atau Intranet), Voice dan Video (Interactive TV dan Multimedia).

Akses pita lebar 4 Mbps yang dilayani dengan teknologi DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) baru mampu memberikan layanan Internet dan Warnet berkecepatan 512 Kbps. Sedangkan akses pita lebar 20 Mbps yang dilayani teknologi MSAN (Multi-Service Access Node) sudah mampu memberikan layanan Triple Play. Akses 20 Mbps juga mampu mengakomodasi layanan-layanan lain seperti ISDN PRA/BRA, VPN IP, TelkomLink, dan Leased Circuit.

Akses pita lebar 100 Mbps yang menggunakan teknologi GPON (Gigabyte Pasive Optical Network) tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi lagi. Akses dengan kecepatan setinggi itu bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan layanan sekelas Enterprise Solution, Business Solution, Internet Service Provider/Other Liason Operators, Mobile Backhaul, dan lain-lain.


Komitmen Membangun Infrastruktur

Keseriusan TELKOM untuk membangun infrastruktur yang handal di level jaringan akses tak lepas dari grand scenario TELKOM Super Highway yang dicanangkan Dirut TELKOM Rinaldi Firmansyah pada tanggal 30 November 2009 di depan Presiden Republik Indonesia.

Pada TELKOM Super Highway dibangun jaringan akses di antaranya MSAN, GPON dan softswitch yang akan membentuk Next Generation Nationwide Broadband Network (NG-NBN), sehingga dimungkinkan tersedianya layanan TIME (Telecommunication, Information, Media dan Edutainment) dengan kecepatan dan kualitas yang tinggi dan dengan harga yang kompetitif.

Untuk mewujudkan cita-cita besar membangun TELKOM Super Highway, TELKOM akan terus membangun jaringan serat optik beserta Metro-E, IPCore, Terra Router. Pembangunan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Denpasar-Mataram atau yang dikenal dengan sebutan proyek JaKa2LaDeMa, membuat posisi TELKOM Super Higway semakin kuat.

Dalam kaitan visi TELKOM Super Highway, serangkaian infrastruktur telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada akhir 2009 lalu. Infrastruktur dimaksud meliputi: backbone serat optik Padang-Bengkulu sepanjang 914 km; backbone serat optik Kalimantan-Sulawesi sepanjang 5.445 km; IP core, Tera Router dan Metro-e dengan 921 node pada 10 kota (yaitu: Batam, Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Bandung, Makassar, dan Banjarmasin); Soft-switch Jakarta dengan kapasitas 172.000 SSL; dan backbone Batam ke link Internasional (proyek Batam-Singapura Cable System dan Asian America Gateway) yang merupakan infrastruktur untuk menghubungkan Indonesia ke Asia dan Amerika dengan kapasitas 40 Gbps (kini sudah meningkat menjadi 63 Gbps.

Rinaldi Firmansyah menyatakan pihaknya telah dan akan terus mengerahkan seluruh sumberdaya yang dimiliki secara optimal untuk membangun infrastruktur yang handal, yang memungkinkan seluruh layanan berbasis TIME beroperasi. Ia mengakui, ada tuntutan capex yang tidak sedikit untuk mewujudkan itu semua. Sebagai contoh ia menjelaskan biaya teknologi MSAN ALU saja sekitar USD 150 per SSL, sehingga akan dibutuhkan biaya besar bila kapasitas line yang ada mencapai jutaan. Demikian pula untuk teknologi DSLAM yang biayanya mencapai USD 80 per Satuan Sambungan Layanan (SSL) atau teknologi GPON yang jelas tidak murah.

Namun demikian, lanjut Rinaldi Firmansyah, pihaknya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa sepanjang TELKOM konsisten mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-Cost, posisinya justru akan semakin leading baik dari segi layanan maupun bisnis. “Kami sangat menyadari, begitu banyak harapan, termasuk dari Negara, ditujukan kepada TELKOM dalam hal penyediaan infrastruktur akses pita lebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini tentu sebuah tantangan yang mesti kami respon dengan upaya terbaik,” ujarnya.


Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.