INCLUDE_DATA

Campus Industry Partnership : Membangun Sinergi Antara Kampus & Industri

Keunggulan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas kepakaran SDM yang berkemampuan lanjut. Mereka diharapkan mampu melakukan penelitian yang mendasar dan mendalam baik dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan & Teknologi maupun dalam rangka pemecahan masalah pembangunan. Kemampuan bangsa indonesia menguasai Ilmu Pengetahuan & Teknologi perlu terus ditingkatkan agar mampu membudiyakan sumber-sumber alam, serta diarahkan untuk pengembangan keunggulan kompetitif. Sehingga terjadi keseimbangan antara aset negara berupa sumber daya alam (SDA) dengan aset lainnya berupa sumber daya manusia (SDM).  Kekayaan alam yang melimpah harus diimbangi dengan kemampuan dan kualitas sumber daya manusianya.
Untuk sampai pada taraf tersebut, maka generasi muda Indonesia  sebagai generasi penerus memerlukan penanganan-penanganan yang komprehensif. Dalam rangka memenuhi kebutuhan industrialisasi dan meningkatkan daya saing bangsa menghadapi ekonomi pasar yang makin terbuka, maka penanganan bidang akademik merupakan suatu keharusan bagi kita untuk memperhatikan keperluan akan penguasaan ilmu Pengetahuan & Teknologi yang merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan masa depan bangsa. Oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan akademik diperlukan tidak hanya penguasaan ilmunya tetapi juga pemeliharaan, penerapan, pengembangan dan penciptaan ilmu Pengetahuan & Teknologi itu sendiri dalam rangka menunjang pengembangan industri indonesia. Pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana peranan industri TELCO atau bagaimana hubungan industri TELCO dengan universitas sebagai institusi pendidikan dapat memenuhi kebutuhan hal tersebut diatas ?.
 
INDIKATOR DAYA SAING BANGSA
 
Perubahan generasi ini perlu dicermati agar bangsa kita bisa menghasilkan suatu generasi yang punya daya saing dan  lepas dari keterpurukan. Dari perspektif daya saing berdasarkan survey dari World Economic Forum 2009 sebagai ukuran relatif kemajuan bangsa-bangsa di dunia dengan melakukan pengukuran terhadap 12 faktor antara lain higher education & training, technology readiness dan innovation. Ranking Indonesia terus merosot, pada tahun 1999 Indonesia di peringkat 37, tahun 2006 turun ke peringkat 50 dan  tahun 2007 merosot lagi ke peringkat 54, jauh tertinggal dari Singapura (7), Malaysia (21), bahkan Thailand (28). Pada tahun 2008 Indonesia kembali merosot ke peringkat 55 sementara Singapura (5), Malaysia (21) dan Thailand (34).
 
Selain berdasarkan data World Economic Forum, indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan bangsa adalah HDI (Human Development Index) dan DOI (Digital Opportunity Index). Indonesia masih menunjukkan pencapaian yang belum menggembirakan. HDI adalah pengukuran perbandingan dari life expetancy index, education index dan GDP index untuk semua negara di seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju , negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. Dari Negara-negara yang diteliti oleh UNDP (United Nations Development Programme) tahun 2006, Indonesia berada pada urutan 109 dari 179 negara, dengan indeks 0.726, turun dari posisi sebelumnya di urutan 110. Posisi ini cukup jauh dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia (urutan 63/0.823), Thailand (urutan 81/0.786) dan Filipina (urutan 102/0.745).
 
 
Sedangkan untuk indikator DOI (Digital Opportunity Index) merupakan suatu index yang disepakati oleh ITU (International Telecommunication Union), yang mengukur 3 aspek penting dari suatu negara dengan aspek sebagai berikut :
 
1.       Opportunity; kesempatan seseorang untuk mendapatkan akses internet baik dari kesempatan  pada aspek Affordability maupun kesempatan dalam aspek Coverage
2.       Infrastructure; sejauh mana sesorang memiliki akses untuk mendapatkan network serta sejauh mana sesorang dapat mendapatkan device yang memadai untuk terciptanya akses internet.
 
3.      Utilization; seberapa tinggi tingkat penggunaan akses internet digunakan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari (usage) dan dapat meningkatkan derajat kehidupannya (quality).
 
 
Berdasarkan data yang dikeluarkan ITU tahun 2007, Indonesia berada di peringkat 116  dari 181 negara, dengan indeks 0.34. Posisi ini cukup jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia (urutan 57/0.5), Thailand (urutan 82/0.43) dan Filipina (urutan 102/0.38).
 
 
PERANAN TIK MENUJU PEMBERDAYAAN GENERASI BARU
 
Untuk berkompetisi dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), negara memerlukan warga negara terdidik dengan skill tinggi melalui pembelajaran berbasis TIK & e-learning yang effektif dan ter-integrasi. Penggunaan TIK yang effektif dan terintegrasi dalam pembelajaran e-learning akan meningkatkan kemampuan akses secara global dan membuka peluang untuk berkompetisi secara global pula.
Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Sehingga dapat membantu mahasiwa dalam melakukan penelitian, riset, tugas akhir dll. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan. Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Makalah dan jurnal penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharing. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi. Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.
Saat ini peranan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) dalam perubahan generasi baru yang disebut C Generation dimaknai oleh beberapa perkembangan baru dari bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dengan Jumlah satuan sambungan telepon seluler yang telah melebihi 170 juta dan pengguna internet sekitar 25 juta pada awal 2009, maka hubungan (connection) antar manusia/organisasi menjadi lebih mudah. Konvergensi (convergency) antar komputer, komunikasi dan penyiaran juga memudahkan kolaborasi (collaboration) kerja antar penggunanya (e.g. facebook, web 2.0). Hal ini juga memicu dihasilkan digital service creative seperti Music, Video, Games, Books dan Mags & Print. Semua ini akan mengasilkan karya budaya yang lebih baik (contextual). Inilah yang dapat disebut sebagai generasi K (C generation) yang dapat dimaknai sebagai suatu generasi baru yang dicirikan oleh Connection,  Convergency, Collaboration, Content Creative dan Contextual.
Dalam kaitan ini Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat erat dengan transformasi perubahan generasi, mulai munculnya teknologi komunikasi pita sempit, pita lebar, mobilitas, konvergensi dengan computer dan broadcasting sampai dengan terjadinya collaboration melalui  jejaring sosial seperti Web 2.0 dan juga lahirnya konten kreatif. TIK menjadi agen pendorong utama dibalik kemunculan “C Generation” yang kehadirannya tidak bisa begitu saja diabaikan. Jika dibarengi dengan suatu orientasi secara nasional, maka kondisi ini tentu akan memberi nilai lebih dalam menghela pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik. Sebaliknya tanpa ada suatu orientasi, panduan serta kesiapan nasional, maka kemunculan fenomena ini hanya akan menggilas sendi-sendi kehidupan bangsa.
 
LINK & MATCH KAMPUS DAN INDUSTRI
 
Hal yang perlu kita yakini adalah bahwa prioritas pengembangan sumber daya manusia (SDM) haruslah dimulai dengan membangun institusi atau kelembagaan negara maupun swasta yang memiliki design dan system untuk menciptakan manusia trampil, disiplin, inovatif dan kreatif sehingga mampu menciptakan nilai tambah. Untuk itu diperlukan kerjasama kampus dengan kalangan Industri agar lulusan kampus dapat memenuhi standar kualitas industri. Saat ini kualitas lulusan sarjana teknik masih berada jauh dari standar yang ditetapkan industri antara lain disebabkan kurangnya waktu praktik yang ditetapkan kurikulum, minimnya peralatan praktik yang dimiliki kampus, serta keterbatasan kemampuan dosen pengajar dimana hal ini dialami juga baik lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk jenjang sarjana maupun diploma.
 
Berdasarkan data World Economic Forum 2009, untuk quality of educational system di Indonesia berada pada peringkat 39 dibawah Malaysia (18) dengan nilai 4,2 dari scala 7. Angka tersebut menyatakan tingkat kualitas pendidikan di Indonesia terhadap kebutuhan competitive economy. Hal ini menyebabkan lulusan sarjan teknik kesulitan dalam mengikuti perkembangan industri yang terus semakin berkembang dan akhirnya sulit bersaing dalam bursa kerja. Lulusan perguruan tinggi dalam negeri belum dianggap sebagai tenaga siap pakai sehingga terlebih dahulu diberikan pelatihan untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi yang direkrutnya. Selain itu dalam hal inovasi atau hasil-hasil penelitian di dalam kampus masih belum dapat terserap sektor industri secara maksimal disebabkan produk hasil penelitian tersebut belum marketable. Harapannya adalah inovasi di dunia pendidikan tinggi tidak hanya berhenti sebagai prototipe atau publikasi jurnal tapi bisa dibawa hingga memiliki nilai ekonomis dan dapat dijadikan peluang bisnis. Untuk itu hal yang perlu dilakukan adalah menjadikan kampus sebagai tempat dimana teknologi diaplikasikan dan dapat dipergunakan oleh masyarakat industri. Hal ini tidak perlu terjadi jika komunikasi antara pihak kampus dan industri terjalin dengan baik. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kompetensi yang harus dimilikinya termasuk peluang karir di dunia industri.
 
Dalam kaitannya untuk implementasi Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat diperlukan kerjasama yang baik antara kampus dan industri. Output dari implementasi Tri Dharma tersebut menimbulkan beberapa masalah antara lain :
1.          Kurikulum Perguruan Tinggi yang berlaku pada saat ini dirasa belum menjawab tantangan global yang memerlukan sumber daya manusia yang unggul.
2.          Kondisi fasilitas baik perangkat keras dan lunak di Perguruan Tinggi yang sudah tidak memadai untuk mendukung proses pendidikan & penelitian untuk terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.
3.         Output dari penelitian (tugas akhir) yang dilakukan mahasiswa tidak langsung dapat diaplikasikan di dunia industri.
Adanya kesenjangan atau ketidakserasian antara pendidikan dengan dunia industri merupakan masalah yang harus diantisipasi bersama oleh semua komponen bangsa. Hal ini dimaknai bahwa Mahasiswa dan Lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi bagian dari perkembangan industri. Kenyataannya adalah saat ini jurang antara dunia pendidikan tinggi dan kalangan industri masih sangat lebar. Setiap tahun, ribuan penelitian dilakukan para mahasiswa dari berbagai jurusan untuk menyelesaikan tugas akhir (TA). Tetapi karya-karya tersebut sering terbuang sia-sia tanpa melahirkan manfaat bagi masyarakat luas. Harapan kita adalah bahwa karya-karya mahasiswa yang disusun selama berbulan-bulan atau bahkan beberapa tahun itu mampu menawarkan konsep atas permasalahan-permasalahan atau kebutuhan di dunia Industri. Kondisi ini tidak lain disebabkan metode link and match antara perguruan tinggi dan industri tidak berjalan baik.  Walaupun selama ini relasi itu sudah terbangun melalui berbagai program seperti co-op (Co-operative education), PKL (Praktek kerja lapangan), Kulap (kunjungan lapangan) hingga penelitian bersama. Tetapi bentuk kerja sama tersebut belum sepenuhnya berjalan maksimal atau “not good enough”. Civitas perguruan tinggi lebih banyak ”meminta” ketimbang ”memberi”. Akibatnya, dari sisi dunia industri merasa enggan untuk melakukan kegiatan ”link and match” lebih lanjut. Untuk itu diharapkan kampus menunjukkan sikap lebih proaktif dalam menggandeng kalangan industri. Kampus harus menyadari keinginan industri, yakni sisi teknis dan ekonomis serta praktis dan aplikatif.
 
Sedangkan saat ini dunia industri agar dapat bersaing dalam global market memerlukan SDM yang berkualitas dan siap pakai. Selain kebutuhan akan SDM yang berkualitas dunia industri terutama industri kecil & menengah juga membutuhkan tenaga ahli dan sumber daya lainnya dalam menciptakan atau mengembangkan produk baru dan membuka akses pasar. Sehingga dengan dipenuhinya kebutuhan tersebut industri dapat fokus pada pemasaran dan pembangunan jaringan distribusi. Permasalahan inilah yang membutuhkan link & match antara kampus dan industri sehingga dengan terjalinnya hubungan tersebut maka kampus dan industri dapat saling menguntungkan.
Di luar negeri, prinsip link and match ini telah berjalan, sehingga lulusan dari sekolah dan kampus bisa terserap dengan baik. Ada kerja sama yang erat antara dunia industri, sekolah, dan kampus dalam menghasilkan lulusan bermutu. Kerja sama dilakukan dalam bentuk pembuatan kurikulum dan pelatihan. Dengan kurikulum dan pelatihan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, maka lulusan menjadi siap pakai untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Prinsip ini bersandar pada kebutuhan (demand) bukan supply. Jadi, pendidikan harus mengacu pada kebutuhan pasar kerja bukan hanya menyuplai tanpa memperhatikan kebutuhan. Dengan cara ini, selain kompetensi meningkat karena adanya kerja sama pendidikan dengan dunia industri dan bisnis, dampaknya dapat menekan pengangguran. Sebabnya, jumlah lulusan telah sebanding dengan kebutuhan pasar kerja. Intinya adalah “we always have too many people but not enough”. Kita memiliki banyak tenaga kerja, akan tetapi tidak disertai dengan ‘competency based’ yang dibutuhkan organisasi/industri.
 
PENGEMBANGAN TECHNOPARK
 
Sebagai bagian komponen pendukung blue print ICT Indonesia, pengembangan TECHNOPARK sangat diperlukan. Technopark dapat diartikan sebagai tempat/kawasan dimana teknologi dapat diaplikasikan sehingga dapat dipergunakan oleh masyarakat industri. Tujuan dari Technopark ini untuk membuat link yang permanen antara perguruan tinggi (akademisi), pelaku industri / bisnis / finansial, dan pemerintah. Technopark mencoba menggabungkan ide, inovasi, dan know-how dari dunia akademik dan kemampuan finansial (dan marketing) dari dunia bisnis. Diharapkan penggabungan ini dapat meningkatkan dan mempercepat pengembangan produk serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke produk yang dapat dipasarkan, dengan harapan untuk memperoleh economic return yang tinggi.
 
Pada intinya, keberadaan ”Technopark” ingin mengokohkan kembali hubungan antara industri dengan dunia pendidikan tinggi. Diharapkan perguruan tinggi (diwakili dosen, peneliti dan mahasiswa) senang dengan adanya Technopark di kampus karena mereka dapat langsung berhadapan dengan masalah nyata yang dihadapi oleh industri. Mahasiswa dapat menggunakan pengalamannya ini sebagai referensi ketika dia mencari pekerjaan lain, jika dia tidak tertarik untuk menjadi bagian dari perusahaan yang bersangkutan. Sementara bagi industri adalah adanya akses ke sumber daya manusia (SDM) di kampus. Industri dapat mengakses ide, inovasi, dan teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti di kampus.
Sebuah ”Technopark” yang ideal setidaknya menyediakan tiga akses utama. Pertama, akses kepada pakar yang ada dikampus. Banyak dari industri (terutama menengah) tidak memiliki tenaga ahli dalam bidangnya. Akibatnya inovasi produknya tidak bisa berjalan secara maksimal. Dengan akses kepada pakar maka industri bisa menawarkan kerjasama penelitian industri. Pihak peneliti mendapatkan objek penelitian yang pas, sedangkan industri mendukungnya dengan pendanaan. Kedua akses kepada fasilitas kampus, seperti perpustakaan, peralatan dan perlengkapan laboratorium, internet center dan fasilitas fisik lainya. Umumnya perguruan tinggi memiliki berbagai peralatan yang canggih, yang mustahil dimiiliki oleh pelaku industri menengah kebawah. Ketiga busines center, dimana interface antara perguruan tinggi dengan industri terjadi. Katakanlah begini, jika ada industri memiliki masalah maka ia bisa datang ke busines center ini untuk berkonsultasi apakah ada sumber daya manusia atau fasilitas yang dapat membantu. Busines center, jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan keuntungan eknomis yang cukup besar.
 
BENCHMARK CASE :  MIMOS TECHNOPARK MALAYSIA
 
Berkaca pada negara tetangga yaitu Malaysia yang mempunyai sebuah badan research (MIMOS) yang di tunjuk Kerajaan (Pemerintah) Malaysia untuk melakukan research untuk applied technology terkini. Misi dari MIMOS adalah menjadi pionir ICT untuk menjawab kebutuhan perkembangan  dunia industri yang competitive.
Mimos menjembatani research dari industri, universitas, pemerintah untuk berkolaborasi dan berpartner dalam menghasilkan teknologi terapan. Area research Mimos fokus pada cyberspace security, Encryption System, Grid Computing, Communication Technology, Micro Energy, Micro System, Advance Informatics, Knowledge Technology.
 Penelitian MIMOS fokus kepada pengembangan technology platform yang akan digunakan oleh Industri lokal untuk pengembangan produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Harapannya adalah MIMOS dapat membantu industri di Malaysia untuk dapat bermain pada global market. Sehingga industri lokal dapat fokus pada membangun brand dan  jaringan distribusi tanpa harus melakukan penelitian terhadap pengembangan produk baru yang cukup memakan waktu lama.
 
TANTANGAN
 
Untuk menghadapi persaingan yang semakin tajam dalam era globalisasi maka pengembangan sumber daya manusia (SDM) haruslah menjadi top priority dan menjadi komitmen bersama. Untuk itu kolaborasi dari semua unsur sangatlah diharapkan baik pemerintah, industri, dan institusi pendidikan sendiri. Semua arah kebijakan haruslah made by design bukan by default  dan tentu saja diperlukan konsistensi dari implementasi kebijakan tersebut.
 
Indikator-indakator seperti GCI, HDI dan DOI untuk Indonesia beberapa tahun terakhir tentu linier dengan proses pembangunan manusia yang dilakukan melalui berbagai program pembangunan. Dan indeks ini merupakan sebuah raport pembangunan manusia yang dicapai oleh pemerintah dan bangsa Indonesia. Deskripsi kuantitatif tersebut dapat menyadarkan semua elemen bangsa mulai dari pemerintah, kampus dan industri sendiri agar dapat bangkit mengejar ketertinggalan sehingga terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur bukan semakin menjauh dari sasaran. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh kita semua yang peduli terhadap pembentukan SDM Indonesia yang berkualitas.
 
 
Jakarta, 20 Maret 2010
 
Salam,
 
Muhammad Awaluddin

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.