INCLUDE_DATA

WIMAX Menjadi Solusi Infrastruktur Bagi Uncovered Demand

Beberapa hari belakangan ini, komunitas industri telematika dikejutkan dengan hasil tender zona Broadband Wireless Access (BWA) Wimax yang ditinggalkan oleh pemenangnya karena tidak sanggup membayar biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi tahun pertama dan up front fee/licensing fee.

Untuk diketahui, batas terakhir pembayaran BHP frekuensi dan up front fee bagi 8 perusahaan pemenang tender BWA adalah Selasa (17/11). Kedelapan perusahaan itu adalah Telkom, Indosat Mega Media (IM2), Internux, First Media, Jasnita Telekomindo, Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wimax Indonesia, serta Konsorsium PT Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania. Dari delapan perusahaan tersebut, hanya dua pemenang yang memenuhi kewajibannya yakni TELKOM dan IM2.

Aksi yang dilakukan enam pemenang tender tersebut memang sedikit aneh, karena dalam dokumen tender sudah jelas tentang persyaratan yang harus dilakukan setelah ditetapkan sebagai pemenang tender. Sebagaian pemenang tender yang belum bayar tersebut mengangkat alasan terkait dengan keterbatasan perangkat lokal yang harus memenuhi persyararatan TKDN.

Mari kita sejenak melupakan cerita itu. Selanjutnya, bagaimana dengan TELKOM sendiri dalam menggelar produk dan layanan untuk pelanggannya berbasis teknologi Wimax ? Teknologi Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) merupakan teknologi broadband yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dan jangkauan yang luas sesuai dengan standar IEEE 802.16. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan, WiMAX juga membawa isu open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX diantara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX layak diaplikasikan untuk ‘last mile’ broadband connections, backhaul, dan high speed data infrastructure for enterprise service.

Penggelaran teknologi Wimax di tanah air saat ini sudah dimulai. Setelah regulator mengeluarkan izin melalui Keputusan Menkominfo No. 5/KEP/M.KOMINFO/01/2009 perihal penetapan penyelenggara Blok Pita Frekuensi Radio pada Pita Frekuensi Radio 3.3 Ghz untuk pengguna pita frekuensi radio eksisting untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel dan melalui keputusan Menkominfo Nomor : 237/kep/M.KOMINFO/07/ 2009 perihal penetapan pemenang tender BWA 2,3 Ghz. Untuk penggelaran BWA 2,3 Ghz dimenangkan oleh Internux, Berca Hardayaperkasa, First Media, TELKOM, Indosat Mega Media, Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania, Jasnita Telekomindo, dan Konsorsium Wimax Indonesia.

TELKOM sendiri untuk penggelaran penggelaran BWA 2,3 Ghz ada di lokasi Zona 6 (Jawa Tengah), Zona 7 (Jawa Timur), Zona 9 (Papua), Zona 10 (Maluku dan Maluku Utara), Zona 12 (Sulawesi bagian utara). Sedangkan penggelaran BWA 3,3 Ghz mendapatkan izin di wilayah Sumatra (Medan, Pekanbaru, Palembang), Jabodetabek (Bekasi, Bogor, Jak-Tim, Tangerang), Jawa Barat (Bandung), Kalimantan (Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak) yang merupakan lokasi migrasi dari pita frekuensi radio 3,4 – 3,6 Ghz ke pita frekuensi radio 3,3 Ghz termasuk beberapa lokasi baru. Terlihat dari zona yang dimenangkan Telkom tidak ada yang mengalami overlap dari frekuensi 3,3 Ghz dan 2,3 Ghz, hanya saja Telkom tidak mempunya lisensi di Bali & Nusa Tenggara, Sulbagsel dan Riau Kepulauan untuk kedua spectrum tersebut. Walaupun demikian saat ini di 3 zona tersebut telah tercover layanan Speedy dan TSEL Flash dengan tingkat okupansi yang cukup baik terutama di Sulbagsel.

Terkait deployment strategy Wimax, TELKOM telah menetapkan 4 (empat) hal dalam deployment strategy untuk infrastruktur Wimax yaitu :

1. No Wimax : di area cakupan dengan ketersedian & keandalan infrastruktur yang tinggi, Telkom tidak perlu menggelar wimax. Meskipun demikian Telkom dapat bergantung pada existing product melalui aggressive marketing, price cut dan customer retention program.
2. Defend : Penggelaran secara selektif dengan memperhatikan masih ada area yang belum terlayani (holes) di area yang sudah terbangun infrastruktur Telkom dan juga area dengan kualitas network yang rendah. Pertimbangan penggelaran Wimax lainnya adalah untuk mencegah competitor menguasai market share existing.
3. Deploy : Penggelaran untuk area diluar jaringan kabel Telkom yang sudah tergelar (fixed line) dan juga ditujukan untuk menguasai market share dari competitors di area green field
4. Dominate : ditujukan pada area dengan existing infrastructure yang lemah dan large unaddressed demand maka Telkom seharusnya menjadi market leader terhadap segmen tertentu.

Tentu saja strategi tersebut diatas dengan tetap memperhitungkan beberapa faktor antara lain : pertama, addresable market yang didasari atas segmen residential, small medium enterprise dan corporate.Kedua, Existing infrastructure and performance yaitu coverage atas produk Telkom eksisting (Speedy, Astinet, Metro Ethernet dan Telkomsel Flash), kapasitas dan utilisasi alat produksi, tingkat QoS dan kepuasan pelanggan, historis pertumbuhan dan tingkat cabutan dari pelanggan broadband Telkom. Ketiga, Competition yaitu tingkat kompetisi di area. Keempat, Regulation yaitu aturan pembangunan dari regulator.Selain itu juga yang menjadi pertimbangan adalah quick time to market dalam artian launching plan dapat lebih cepat dibandingkan kompetitor mengingat Telkom sudah lebih siap dalam hal infrastruktur pendukung (back haul, Metro-E) karena saat ini kendala ketersediaan dan kapasitas jaringan backbone tidak lagi yang menjadi issue dan sudah dapat disolusikan.

Harapan dari penggelaran Teknologi Wimax baik pemerintah maupun operator adalah teknologi Wimax ini dapat memberikan nilai ekonomis atas sumber daya frekuensi yang terbatas, layanan internet yang terjangkau, dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri dalam negeri (IDN) untuk perangkat BWA.

Salam,

Muhammad Awaluddin

3 Responses

  1. avatar sudarman Says:

    kapan masuknya wimax ke daerah2,soalnya speedy aja baru jalan.tx cah pati

  2. avatar sudarman Says:

    kapan masuknya wimax ke daerah2,soalnya speedy nya baru jalan.tx cah pati

  3. avatar Lilik Suharto Says:

    Daripada nungguin wimax g jelas, mendingan pake vsat…speed up to 4 Mbps…the real conection on vilages

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.