<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Muhammad Awaluddin</title>
	<atom:link href="http://mawaluddin.info/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mawaluddin.info</link>
	<description>Berkarya untuk Indonesia</description>
	<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 15:55:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>IPTV, Evolusi Siaran TV di Indonesia</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=526</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=526#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2010 23:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Di masa mendatang IPTV akan menyaingi popularitas TV kabel. &#8220;Kami berharap, infrastruktur Telkom mampu menyelenggarakan akses triple play yakni sambungan suara, data broadband, dan
Kemajuan teknologi memang telah mendominasi dan ikut mengubah cara Indriani bekerja, bahkan termasuk untuk mendapatkan hiburan. Sebagai salah satu hiburan favoritnya, televisi pun mengalami perkembangan yang signifikan. Tak hanya dari teknologi perangkatnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Di masa mendatang IPTV akan menyaingi popularitas TV kabel. &#8220;Kami berharap, infrastruktur Telkom mampu menyelenggarakan akses triple play yakni sambungan suara, data broadband, dan</strong></p>
<p>Kemajuan teknologi memang telah mendominasi dan ikut mengubah cara Indriani bekerja, bahkan termasuk untuk mendapatkan hiburan. Sebagai salah satu hiburan favoritnya, televisi pun mengalami perkembangan yang signifikan. Tak hanya dari teknologi perangkatnya, tetapi kini untuk menonton televisi tak lagi secara free to air saja, melainkan bisa melalui kabel dan juga satelit. Bahkan Indriani, seorang karyawan swasta, merasakan kebutuhan yang semakin personal saja mengingat banyaknya sumber hiburan yang dibutuhkannya sebagai pekerja yang hampir 100 persen bergantung kepada layanan internet.</p>
<p>Begitu pula dengan kemunculan Internet Protocol Television (IPTV) yang kehadirannya di sejumlah negara maju bak gayung bersambut. Fitur video on demand dan pay per view yang menjadi ciri IPTV memang telah menjadi semacam killer aplication. Fiturfitur IPTV tersebut memang diyakini akan membawa semangat personalisasi dan kustomisasi bagi pelanggannya.</p>
<p>IPTV sendiri merupakan teknologi layanan terpadu dalam bentuk siaran televisi, video, audio, teks, grafik, dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol</p>
<p>internet. Selain konten program televisi, seperti sport, news, film, dan sebagainya, pelanggan bisa menikmati konten entertainment interaktif lainnya, seperti musik, game, hingga advertising.</p>
<p>Semua program tersebut didistribusikan melalui suatu jaringan broadband IP network dengan tingkat keamanan tinggi dan dikelola secara akurat. Pelanggan seperti Indriani pun dapat dengan mudah mengaksesnya menggunakan terminal PC/desktop maupun pesawat televisi dengan tambahan set top box (STB).</p>
<p>Telkom memang menjadi perintis layanan IPTV di Indonesia. Sementara di sejumlah negara, IPTV sangat diyakini akan menjadi siaran televisi masa depan mengingat pertumbuhannya yang cepat. Bahkan dari hasil riset Multimedia Research Group (MRG) terungkap bahwa pertumbuhan pelanggan IPTV telah mencapai 45 persen per tahun.</p>
<p>Di sisi lain, IPTV mampu mengurangi pengeluaran pelanggan yang gemar menyewa CD atau kaset film atau lagu. Juga sangat interaktif, karena pelanggan tidak hanya menonton siaran ataupun konten pada portal IPTV, tapi juga dapat melakukan rewind, pause, bahkan recording pada konten yang diinginkan.</p>
<p>Soal kualitas tayangan, IPTV telah menerapkan infrastruktur dengan sistem head end yang fungsinya untuk melakukan proses encoding konten-konten broadcast television atau movie menjadi format digital video MPEG2 atau MPEG4 dan kemudian diencapsulate sehingga dapat ditransmisikan melalui jaringan IP broadband.</p>
<p>Tayangan konten pun tetap berkualitas baik. Bahkan akses internet (browsing) dan IPTV dapat dinikmati dalam satu jaringan yang dimungkinkan karena layanan provider IPTV menggunakan jaringan broadband seperti Speedy yang dimiliki Telkom. Bahkan diprediksi kalau di masa mendatang popularitas TV kabel akan tergusur oleh IPTV dari pasar layanan siaran TV berbayar.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan minat Telkom sebagai provider telekomunikasi terbesar dan terluas menyambut kehadiran IPTV? Telkom tampaknya sudah siap memasuki bisnis IPTV lewat upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas jaringan akses pita lebar maupun infrastruktur jaringan.&#8221;Kami berharap, infrastruktur Telkom mampu menyelenggarakan akses triple play yakni sambungan suara, data broadband, dan multimedia termasuk TV internet,&#8221;jelas Eddy Kurnia, Head of Corporate Communications PT Telkom.</p>
<p>Namun demikian, yang tak kalah pentingnya adalah kesiapan masyarakat menerima migrasi siaran analog ke digital. Menurut pengamat teknologi infor masi Onno W Purbo, secara umum kehadiran IPTV di Indonesia akan menggembirakan semua pihak.</p>
<p>“Saya lebih melihat dari sisi kebutuhan perangkat pemancarnya. Kalau dulu kita butuh pemancar TV yang harganya milyaran, tapi sekarang pakai server kelas-kelas 10 jutaan juga bisa kok,” kata Onno.</p>
<p>Walau begitu, Onno juga menyoroti kesiapan stasiun televisi dan juga provider-nya. Salah satunya adalah persoalan band width yang di Indonesia kerap masih jadi keluhan pengguna. Menurutnya, untuk televisi membutuhkan bandwidth yang lebar, karena jika tidak, dipastikan bisa putus-putus saat menontonnya. Kalau dari sisi client (pengguna), lanjut Onno, harusnya semua sudah siap. “Kecuali biasanya biaya buat akses ke</p>
<p>internetnya saja, maklum di Indonesia akses internet kan masih terbilang mahal,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Selama ini, dari hasil survei uji coba yang baru dilakukan di Jakarta dan akan disusul kota besar lainnya, sebanyak 60 persen dari 1.900 responden memberikan respon positif. Sedangkan dari industri perangkat televisi, beberapa produsen seperti PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), satu tahun terakhir telah memproduksi televisi digital, termasuk piranti STB. Manajer Produk Polytron, Eddy Ariawan pun langsung menyatakan kesiapannya.<br />
Bahkan Eddy juga mengklaim respon peminat televisi digital cukup menggembirakan. Ia yakin respon akan lebih baik saat migrasi jadi dilaksanakan.</p>
<p>Demikian pula dengan ZTE Coorporation dari China yang masuk peringkat pertama di Asia dan ketiga di dunia versi Frost &amp; Sullivan (Global IPTV Equipment Market and Provider Competition Analysis), telah memberikan sinyal positif dan berencana mengembangkan IPTV di Indonesia dengan menggandeng Telkom. Hal itu sempat diungkapkan langsung oleh President of Multimedia and Terminal Product ZTE, Frank Fang, pada awal tahun 2010 lalu.“Bila sebuah rumah sudah dimasuki kabel berkemampuan IPTV, rumah tersebut tak perlu lagi berlangganan TV kabel atau satelit,” ujar Fang.</p>
<p>Jika sinyal sudah semakin kuat, sepertinya kehadiran IPTV tinggal menunggu waktu saja.</p>
<div id="divBL" style="display: none; float: right;">
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="divBR" style="display: none; float: left;">
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Source : Koran Tempo, 29 Desember 2010</p>
<p><!--Article body ends here--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=526</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The age of fiber: FTTx heralds the ultra-broadband era</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=522</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=522#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 11:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[IPTV, HDTV, 3D services, and video conferencing are among the applications that epitomize the new ultra-broadband era and demand great things from broadband access networks. FTTx has emerged as a high capacity, wide coverage, and low cost solution that is eco-friendly and can smoothly bear video services. Backed by mature technology, reduced costs, government support, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>IPTV, HDTV, 3D services, and video conferencing are among the applications that epitomize the new ultra-broadband era and demand great things from broadband access networks. FTTx has emerged as a high capacity, wide coverage, and low cost solution that is eco-friendly and can smoothly bear video services. Backed by mature technology, reduced costs, government support, and increasingly open policies, FTTx is the new optimum choice for operators.</p>
<p>Global Industry Analysts predicts that the number of FTTH/B users will reach 183.9 million by 2015, and that this upsurge will be powered by greater bandwidth demands, the growth in bundled services, and the replacement of copper with fiber.</p>
<p>Global trends testify to the above analysis: In the U.S., Verizon is planning to extend its FiOS service to 18 million homes with a GPON-based FTTH network. In Europe, BT has accelerated its optical network rollout, and has already begun deploying FTTH. The British giant has earmarked 1.5 billion pounds for its fiber-to-the-curb (FTTC) network, with deployment scheduled for 2012. In March 2009, Deutsche Telekom (DT) announced a 3-year investment package totaling 10 billion euros in fiber optics, new mobile communications technologies and IT processes. The German operator is also seeking to increase the number of FTTH users to 4 million by 2012.</p>
<p>In the Asia-Pacific region, Japan had already passed 13 million households with FTTH by the end of 2009 to decisively lead the region&#8217; s FTTx field. In 2006, Singapore initiated its 700–million-USD iN2015 strategy to construct a nationwide FTTH network during 2010–2012.</p>
<p>In the Middle East, the UAE announced that Abu Dhabi is now the world&#8217; s first capital to be entirely wired with fiber. As a regional technology leader, Etisalat plans to construct a nationwide FTTH network by 2011. Additionally, nationwide fiber networks are currently – and rapidly – being built in Saudi Arabia, Oman, Qatar, and Kuwait.</p>
<p>FTTx network construction in China began in 2007. The big three – China Mobile, China Telecom, and China Unicom – have all initiated massive FTTx deployment schemes, totaling tens of millions of lines. In 2010, China kicked off its ambitious plan to converge telecommunications, broadcasting and the Internet, which is underpinned by a 150 billion RMB (about 22 billion USD) investment to boost fiber broadband rollout over three years. Thanks to government support, FTTH construction in China sits confidently poised for large-scale inception.</p>
<p>However, FTTx rollout is not a cut and dried exercise in simplicity: Service providers require guaranteed fair and open network access, the networks themselves need to be rapidly deployed to be viable, and CAPEX and OPEX – as ever – have to be minimized. Etisalat, Singapore&#8217; s Nucleus Connect and China Mobile provide us with valuable lessons from their FTTx deployment endeavors.</p>
<p>Source : Huawei Technologies - Communicate Magazine, Sept 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=522</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TELKOM Operasikan Home Digital Services</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=516</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=516#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 12:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[MENGHADAPI kompetisi yang kian ketat, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) menyikapinya dengan serius. Menyiasati situasi tersebut, TELKOM harus berpacu dengan perkembangan teknologi guna memberi yang terbaik bagi konsumen. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan infrastruktur yang secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung. 
 
Tidak tanggung-tanggung. targetnya, pada tahun 2015 seluruh kota besar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">MENGHADAPI kompetisi yang kian ketat, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) menyikapinya dengan serius. Menyiasati situasi tersebut, TELKOM harus berpacu dengan perkembangan teknologi guna memberi yang terbaik bagi konsumen. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan infrastruktur yang secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Tidak tanggung-tanggung. targetnya, pada tahun 2015 seluruh kota besar di Indonesia sudah ter-cover oleh serat optik sebagai pengganti akses kabel tembaga (copper). “Target nya adalah, komposisi jaringan akses FTTE (end-to-end copper) 15%, akses FTTC (Fiber to the Curb) yang meng gunakan teknologi MSAN, GPON dan VDSL 70%, serta akses FTTB/H (Fiber to the Building/Home) 15%,” Dirut TELKOM Tbk Rinaldi Firmansyah, beberapa waktu lalu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Keseriusan TELKOM dalam pengembangan infrastruktur tersebut, menurut Rinaldi Firmansyah, tercer min pada tiga isu kritikal yang harus dan akan dijawab TELKOM dalam menghadapi tantangan pengembang an infrastruktur jaringan pita lebar ke depan seiring dengan usahanya mengembangkan portofolio bisnis Telecommunication, Media, Information, edutainment (TIME). </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Isu-isu dimaksud meliputi: bagaimana menjaga teknologi agar senantiasa mampu mengakomodasi kebutuhan konsumsi bandwidth yang terus meningkat; bagaimana men ciptakan pendapatan baru (to generate new revenue); dan bagaimana mem pertahankan biaya (to restrain the cost). Isu-isu ini terkait langsung dengan tiga hal, yaitu: ARPU (Average Revenue per User), Bandwidth<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>atau lebar pita, dan Cost,” terang Rinaldi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Menurutnya, kondisi yang tidak diharapkan terjadi tatkala ARPU ope rator mengalami stagnasi, sementara biaya terus membengkak sebagai kon sekuensi dari upaya yang dilakukan terus-menerus oleh operator untuk meningkatkan kapasitas bandwidth demi mengakomodasi kebutuhan pengguna yang terus melambung. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Dalam era komunikasi suara (voice era) ketika kebutuhan bandwidth lebih banyak digunakan untuk kepentingan voice, operator bisa memperoleh margin yang bagus. Demikian juga, dalam era pita lebar<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>(broadband era) di mana konsumsi band width cukup besar namun masih dalam batas wajar, operator bisa mendapat kan margin yang bersifat<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>sustainable. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Persoalannya, papar Rinaldi Firmansyah, konsumsi<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>bandwidth akan terus berkembang menuju apa yang dis ebut sebagai Ultra Broadband Era yang menawarkan begitu banyak peluang. “Namun bila tidak disiasati dengan baik akan sangat menekan margin ope rator akibat membengkaknya biaya peningkatan kapasitas<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>bandwidth di tengah stagnannya ARPU.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ia mengatakan upaya TELKOM dalam menghadapi tantangan ini adalah mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-Cost tadi. Di sisi bandwidth, kapasitas terus dikembangkan dengan memanfaatkan serangkaian teknologi seperti Metro Ethernet, Terra Router, GPON for FTTH&amp;B, dan 40G WDM/Ethernet. Di sisi ARPU, TELKOM akan terus mengembangkan berbagai layanan seperti Mobile Internet Application, IPTV, Managed Lease Line, dan Wholesale. Sedangkan di sisi biaya (cost) TELKOM melakukan penyederhanaan arsitektur jaringan,<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>point-to-point/Video/ Mobile Broadband, sinergi IP dan optik, serta pemeliharaan yang mudah dan penetapan lokasi secara cepat.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Home Digital Service</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Menurut Rinaldi Firmansyah, Telkom<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>mulai menggelar layanan Home Digital Services yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan pelanggan perumahan dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang berbeda dan lebih maju. Home Digital Services dimungkinkan beroperasi menyusul upaya gencar yang dilakukan TELKOM dalam membangun infrastruk tur jaringan akses pita lebar<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>(broadband) di berbagai wilayah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Beroperasinya layanan Home Digital Services sekaligus membuktikan bahwa TELKOM benar-benar memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan jaringan akses pita lebar sebagai enabler berbagai layanan berbasis TIME,” kata Rinaldi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Layanan<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Home Digital Services<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>sudah mulai dan akan digelar di berbagai tempat, antara lain di seluruh High Rise Building (HRB), Kawasan Industri, Kawasan Bisnis, Kawasan Perkantoran dan Kawasan serta bangunan lain yang dibangun atau dikelola oleh Agung Sedayu Group (ASG). Khusus dengan ASG, belum lama ini TELKOM telah menandatangi nota Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh Direktur Enterprise &amp; Wholesale TELKOM, Arief Yahya dan Direktur Agung Sedayu Group, Alexander Halim Kusumo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Berdasarkan Kesepakatan Bersama tersebut, maka seluruh HRB dan kawasan yang dikelola ASG nantinya akan memiliki infrastruktur telekomunikasi modern yang dapat dimanfaatkan baik oleh manajemen maupun para penghuni dan tenant. Salah satu teknologi jaringan yang digunakan untuk melayani kebutuhan ASG adalah Fiber To The Home (FTTH) yang merupakan format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia (provider) ke kawasan peng guna dengan menggunakan serat optik sebagai mediumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Akses FTTH sudah mulai digelar di Green Mansion dan Puri Mansion. Pembangunan kedua perumahan tersebut merujuk pada konsep hunian dan rukan di tengah kota yang serba lengkap dan modern, dengan berbagai fasilitas yang tertata dan didesain dengan nuansa alam. <span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV">Jaringan akses kecepatan tinggi tak pelak akan men jadi kebutuhan para penghuninya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Penggelaran infrastruktur FTTH di kawasan maupun HRB yang dikelola ASG sangat tepat, sesuai dengan life style yang berkembang, serta tentunya akan meningkatkan nilai kawasan dan propertinya. Perkembangan FTTH sendiri tidak terlepas dari kebutuhan akan layanan akses pita lebar yang terus meningkat dari semula kebutuh an coverage menjadi kebutuhan bandwidth dan terakhir menjadi kebutuhan keduanya. Sebagai TIME enabler, infrastruktur TELKOM terus disiapkan untuk mampu melayani kebutuhan dimaksud.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Komitmen Bangun Infrastruktur</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Keseriusan TELKOM untuk memba ngun infrastruktur yang handal di level jaringan akses tak lepas dari grand scenario TELKOM Super Highway yang dicanangkan Dirut TELKOM Rinaldi Firmansyah pada tanggal 30 November 2009 di depan Presiden Republik Indonesia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pada TELKOM Super Highway dibangun<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>jaringan akses di antaranya MSAN, GPON dan softswitch yang akan membentuk Next Generation Nationwide Broadband Network<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>(NG-NBN), sehingga dimungkinkan tersedianya layanan TIME<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>(Telecommunication, Information, Media dan Edutainment) dengan kecepatan dan kualitas yang tinggi dan dengan harga yang kompetitif. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Untuk mewujudkan cita-cita besar membangun TELKOM Super Highway, TELKOM akan terus membangun jaringan serat optik beserta Metro-E, IPCore, Terra Router. Pembangunan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Denpasar-Mataram atau yang dikenal dengan sebutan proyek JaKa2LaDeMa, membuat posisi TELKOM Super Higway semakin kuat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: DE;" lang="DE"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Dalam kaitan visi TELKOM Super Highway, serangkaian infrastruktur te lah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada akhir 2009 lalu. Infras truktur dimaksud meliputi: backbone serat optik Padang-Bengkulu sepanjang 914 km; backbone serat optik Kaliman tan-Sulawesi sepanjang 5.445 km; IP core, Tera Router dan Metro-e<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>dengan921 node pada 10 kota (yaitu: Batam, Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Bandung, Makassar, dan Banjarmasin); Softswitch Jakarta dengan kapasitas 172.000 SSL; dan backbone Batam ke link Internasional (proyek Batam-Singapura Cable System dan Asian America Gateway) yang merupakan infrastruktur untuk menghubungkan Indonesia ke Asia dan Amerika dengan kapasitas 40 Gbps (kini sudah meningkat menjadi 63 Gbps.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Rinaldi Firmansyah menyatakan pihaknya telah dan akan terus menge rahkan seluruh sumberdaya yang dimiliki secara optimal untuk membangun infrastruktur yang handal, yang memungkinkan seluruh layanan berbasis TIME beroperasi. Ia mengakui, ada tuntutan capex yang tidak sedikit untuk mewujudkan itu semua. Sebagai contoh ia menjelaskan biaya teknologi MSAN ALU saja sekitar USD 150 per SSL, sehingga akan dibutuhkan biaya besar bila kapasitas line yang ada mencapai jutaan. Demikian pula untuk teknologi DSLAM yang biaya nya mencapai USD 80 per Satuan Sambungan Layanan (SSL) atau teknologi GPON yang jelas tidak murah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Namun demikian, lanjut Rinaldi Firmansyah, pihaknya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa sepanjang TELKOM konsisten mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-cost, posisinya justru akan semakin leading baik dari segi layanan maupun bisnis. “Kami sangat menyadari, begitu banyak harapan, termasuk dari Negara, ditujukan ke pada TELKOM dalam hal penyediaan infrastruktur akses pita lebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini tentu sebuah tantangan yang mesti kami respon dengan upaya terbaik,” ujarnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">TELKOM merupakan perusahaan penyelenggara jasa dan jaringan teleko munikasi (full service and network provider) terbesar di Indonesia. Telkomsel yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh TELKOM adalah penyelenggara selular terbesar di Indonesia dihitung berdasarkan jumlah pelanggan dan pendapatan. TELKOM menyediakan jasa InfoCom yang mencakup antara lain telepon tetap, jasa telpon nirkabel, jasa telepon bergerak, data-Internet dan network &amp; interkoneksi. Saham TELKOM terdaftar di Bursa Efek<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Indonesia (BEI: TLKM) dan menerbitkan American Depository Shares yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE:TLK) dan London.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">BOX:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">TIME COMPANY</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV">SEMENTARA<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>itu, EGM Divisi Akses TELKOM Muhammad Awaluddin menambahkan kebijakan transformasi TELKOM<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>menjadi TIME Company perlu didukung<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>transformasi infrastruktur dan sistem, termasuk di sisi jaringan akses. TELKOM akan mengembangkan akses pita lebar dengan tiga segmen sasaran, yaitu: Broadband for Home Digital Environment, Broadband for Enterprise Government, dan Broadband Anywhere. “Kerjasama dengan<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>ASG merupakan bagian dari upaya pengembangan Broadband for Home Digital Environment. </span>Konsep Digital Home sendiri meliputi digital home communication, digital dan digital surveillance &amp; security,” kata Muhammad Awaluddin.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sebagai konsekuensi perubahan besar-besaran portofolio layanannya ke arah layanan berbasis TIME, TELKOM memberikan perhatian dan upaya yang ekstra terkait pengembangan kapabilitas akses. Kebijakan TELKOM tentang rencana pengembangan akses pita lebar antara lain menyebutkan bahwa kapasitas true broadband (yakni akses dengan kecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps) yang di tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 21% saja, di tahun 2015 akan berkembang menjadi 85%. Saat ini, sebagian besar jaringan akses yang ada masih didominasi kecepatan 1-4 Mbps dan di bawahnya dengan porsi 79%. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Menurut Muhammad Awaluddin, semakin besar kapasitas jaringan akses, semakin besar pula kemampuan jaringan tersebut untuk mengakomodasi berbagai layanan dan aplikasi, termasuk layanan berbasis triple play services yang terdiri dari Data (Internet atau Intranet), Voice dan Video (Interactive TV dan Multimedia).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Akses pita lebar 4 Mbps yang dilayani dengan teknologi DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) baru mampu memberikan layanan Internet dan Warnet berkecepatan 512 Kbps. Sedangkan akses pita lebar 20 Mbps yang dilayani teknologi MSAN (Multi-Service Access Node) sudah mampu memberikan layanan Triple Play. Akses 20 Mbps juga mampu mengakomodasi layanan-layanan lain seperti ISDN PRA/BRA, VPN IP, TELKOMLink, dan Leased Circuit.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Akses pita lebar 100 Mbps yang menggunakan teknologi GPON (Gigabyte Pasive Optical Network) tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi lagi. Akses dengan kecepatan setinggi itu bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan layanan sekelas Enterprise Solution, Business Solution, Internet Service Provider/ Other Liaison Operators, Mobile Backhaul, dan lain-lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: SV;" lang="SV"><span style="font-size: small;"></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=516</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TELKOM Mulai Operasikan Layanan Home Digital Services</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=509</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=509#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 13:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 3 September 2010 – PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) mulai menggelar layanan Home Digital Services yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan pelanggan perumahan dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang berbeda dan lebih maju. Home Digital Services dimungkinkan beroperasi menyusul upaya gencar yang dilakukan TELKOM dalam membangun infrastruktur jaringan akses pita lebar (broadband) di berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;">Jakarta, 3 September 2010</span></strong><span style="font-family: Calibri;"> – PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) mulai menggelar layanan Home Digital Services yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan pelanggan perumahan dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang berbeda dan lebih maju. Home Digital Services dimungkinkan beroperasi menyusul upaya gencar yang dilakukan TELKOM dalam membangun infrastruktur jaringan akses pita lebar (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">broadband</em>)<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> </em>di berbagai wilayah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Demikian terungkap dalam acara Buka Puasa Bersama TELKOM-Media Massa yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (3/9). Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah, Executive General Manager (EGM) Divisi Akses Muhammad Awaluddin, serta para redaktur dan wartawan dari berbagai media massa. Beroperasinya layanan Home Digital Services sekaligus membuktikan bahwa TELKOM benar-benar memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan jaringan akses pita lebar sebagai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">enabler</em> berbagai layanan berbasis TIME (Telecommunication, Information, Media, Edutainment). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Layanan Home Digital Services sudah mulai dan akan digelar di berbagai tempat, antara lain di seluruh High Rise Building (HRB), Kawasan Industri, Kawasan Bisnis, Kawasan Perkantoran (Office), Kawasan Apartemen/Hunian dan Kawasan serta bangunan lain yang dibangun atau dikelola oleh Agung Sedayu Group (ASG). Khusus dengan ASG, TELKOM telah menandatangi nota Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh Direktur Enterprise &amp; Wholesale TELKOM, Arief Yahya dan Direktur Agung Sedayu Group, Alexander Halim Kusumo di Jakarta, Rabu (1/9).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Berdasarkan Kesepakatan Bersama tersebut, maka seluruh HRB dan kawasan yang dikelola ASG nantinya akan memiliki infrastruktur telekomunikasi modern yang dapat dimanfaatkan baik oleh manajemen maupun para penghuni dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">tenant</em>. Salah satu teknologi jaringan yang digunakan untuk melayani kebutuhan ASG adalah <span style="mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;">Fiber To The Home</span><span style="mso-no-proof: yes;"> (<span style="mso-bidi-font-weight: bold;"><a title="FTTH (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=FTTH&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="text-decoration: none; color: #000000;">FTTH</span></a></span>) yang merupakan format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">provider</em>) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik sebagai mediumnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Akses FTTH sudah mulai digelar di Green Mansion dan Puri Mansion. Pembangunan kedua perumahan tersebut merujuk pada </span><span style="font-family: Calibri;">konsep hunian dan rukan di tengah kota yang serba lengkap dan modern, dengan berbagai fasilitas yang tertata dan didesain dengan nuansa alam. Jaringan akses kecepatan tinggi tak pelak akan menjadi kebutuhan para penghuninya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Penggelaran infrastruktur FTTH di kawasan maupun HRB yang dikelola ASG sangat tepat, sesuai dengan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lifestyle</em> yang berkembang, serta tentunya akan meningkatkan nilai kawasan dan propertinya. Perkembangan FTTH sendiri tidak terlepas</span><span style="font-family: Calibri;"> </span><span style="font-family: Calibri;">dari </span><span style="font-family: Calibri;">kebutuhan akan </span><span style="font-family: Calibri;">layanan akses pita lebar </span><span style="font-family: Calibri;">yang terus </span><span style="font-family: Calibri;">meningkat dari semula kebutuhan </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-family: Calibri;">coverage</span></em><span style="font-family: Calibri;"> </span><span style="font-family: Calibri;">menjadi kebutuhan </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-family: Calibri;">bandwidth</span></em><span style="font-family: Calibri;"> dan terakhir menjadi kebutuhan keduanya. Sebagai TIME</span><span style="font-family: Calibri;"> </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-family: Calibri;">enabler</span></em><span style="font-family: Calibri;">, </span><span style="font-family: Calibri;">infrastruktur TELKOM</span><span style="font-family: Calibri;"> </span><span style="font-family: Calibri;">terus disiapkan untuk mampu melayani kebutuhan dimaksud</span><span style="font-family: Calibri;">. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"><br />
Serius Kembangkan Infrastruktur</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Direktur Utama TELKOM Rinaldi Firmansyah memaparkan bahwa ada tiga isu kritikal yang harus dan akan dijawab TELKOM dalam menghadapi tantangan pengembangan infrastruktur jaringan pita lebar ke depan seiring dengan usahanya mengembangkan portofolio bisnis TIME. Isu-isu dimaksud adalah: bagaimana menjaga teknologi agar senantiasa mampu mengakomodasi kebutuhan konsumsi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">bandwidth</em> yang terus meningkat; bagaimana menciptakan pendapatan baru (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">to generate new revenue</em>); dan bagaimana mempertahankan biaya (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">to restrain the cost</em>). Isu-isu ini terkait langsung dengan tiga hal, yaitu: <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">A</strong>RPU (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Average Revenue per User</em>), <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">B</strong>andwidth atau lebar pita, dan <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">C</strong>ost. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Kondisi yang tidak diharapkan terjadi tatkala ARPU operator mengalami stagnasi, sementara biaya terus membengkak sebagai konsekuensi dari upaya yang dilakukan terus-menerus oleh operator untuk meningkatkan kapasitas bandwidth demi mengakomodasi kebutuhan pengguna yang terus melambung. Dalam era komunikasi suara (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">voice era</em>) ketika kebutuhan bandwidth lebih banyak digunakan untuk kepentingan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">voice</em>, operator bisa memperoleh margin yang bagus. Demikian juga, dalam era pita lebar (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">broadband era</em>) di mana konsumsi bandwidth cukup besar namun masih dalam batas wajar, operator bisa mendapatkan margin yang bersifat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">sustainable</em>. Persoalannya, demikian Rinaldi Firmansyah, konsumsi bandwidth akan terus berkembang menuju apa yang disebut sebagai Ultra Broadband Era yang menawarkan begitu banyak peluang, namun bila tidak disiasati dengan baik akan sangat menekan margin operator akibat membengkaknya biaya peningkatan kapasitas bandwidth di tengah stagnannya ARPU. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Upaya TELKOM dalam menghadapi tantangan ini adalah mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-Cost tadi. Di sisi bandwidth, kapasitas terus dikembangkan dengan memanfaatkan serangkaian teknologi seperti Metro Ethernet, Terra Router, GPON for FTTH&amp;M, dan 40G WDM/Ethernet. Di sisi ARPU, TELKOM akan terus mengembangkan berbagai layanan seperti Mobile Internet Application, IPTV, Managed Lease Line, dan Wholesale. Sedangkan di sisi biaya (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">cost</em>) TELKOM melakukan efisiensi melalui langkah-langkah penyederhanaan arsitektur jaringan, optimasi trafik point-to-point/Video/Mobile Broadband, sinergi IP dan optik, serta pemeliharaan yang mudah dan penetapan lokasi secara cepat. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Sementara itu, EGM Divisi Akses TELKOM Muhammad Awaluddin menyatakan, dalam lima tahun ke depan upaya pengembangan infrastruktur jaringan akses TELKOM akan fokus pada penyediaan fiber access secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung dengan target komposisi jaringan akses FTTE (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">end-to-end copper</em>) 15%, akses FTTC (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Fiber to the Curb</em>) yang menggunakan teknologi MSAN, GPON dan VDSL 70%, serta akses FTTB/H (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Fiber to the Building/Home</em>) 15%. Dengan demikian, lanjut Muhammad Awaluddin, akses kabel tembaga (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">copper</em>) diharapkan sudah tergantikan semuanya oleh serat optik di tahun 2015, paling tidak di kota-kota besar Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Ia menekankan, kebijakan transformasi TELKOM menjadi TIME Company perlu didukung transformasi infrastruktur dan sistem, termasuk di sisi jaringan akses. TELKOM akan mengembangkan akses pita lebar dengan tiga segmen sasaran, yaitu: Broadband for Home Digital Environment, Broadband for Enterprise Government, dan Broadband Anywhere. Kerjasama dengan ASG merupakan bagian dari upaya pengembangan Broadband for Home Digital Environment. Konsep Digital Home sendiri meliputi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">digital home communication</em>, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">digital home office</em>, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">digital entertainment</em>, dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">digital surveillance &amp; security</em>.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"><br />
Tingkatkan Terus Kapabilitas Akses</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Sebagai konsekuensi perubahan besar-besaran portofolio layanannya ke arah layanan berbasis TIME, TELKOM memberikan perhatian dan upaya yang ekstra terkait pengembangan kapabilitas akses. Kebijakan TELKOM tentang rencana pengembangan akses pita lebar antara lain menyebutkan bahwa kapasitas <em style="mso-bidi-font-style: normal;">true broadband</em> (yakni akses dengan kecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps) yang di tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 21% saja, di tahun 2015 akan berkembang menjadi 85%. Saat ini, sebagian besar jaringan akses yang ada masih didominasi kecepatan 1-4 Mbps dan di bawahnya dengan porsi 79%.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Menurut Muhammad Awaluddin, semakin besar kapasitas jaringan akses, semakin besar pula kemampuan jaringan tersebut untuk mengakomodasi berbagai layanan dan aplikasi, termasuk layanan berbasis <em style="mso-bidi-font-style: normal;">triple play services</em> yang terdiri dari </span><a title="Data" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Data"><span style="text-decoration: none; color: #000000;"><span style="font-size: small;">Data</span></span></a><span style="font-size: small;"> (Internet atau </span><a title="Intranet" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intranet"><span style="text-decoration: none; color: #000000;"><span style="font-size: small;">Intranet</span></span></a><span style="font-size: small;">), Voice dan Video (Interactive </span><a title="TV" href="http://id.wikipedia.org/wiki/TV"><span style="text-decoration: none; color: #000000;"><span style="font-size: small;">TV</span></span></a><span style="font-size: small;"> dan Multimedia).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Akses pita lebar 4 Mbps yang dilayani dengan teknologi DSLAM (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Digital Subscriber Line Access Multiplexer</em>) baru mampu memberikan layanan Internet dan Warnet berkecepatan 512 Kbps. Sedangkan akses pita lebar 20 Mbps yang dilayani teknologi MSAN (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Multi-Service Access Node</em>) sudah mampu memberikan layanan Triple Play. Akses 20 Mbps juga mampu mengakomodasi layanan-layanan lain seperti ISDN PRA/BRA, VPN IP, TelkomLink, dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Leased Circuit</em>.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;">Akses pita lebar 100 Mbps yang menggunakan teknologi GPON (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Gigabyte Pasive Optical Network</em>) tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi lagi. Akses dengan kecepatan setinggi itu bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan layanan sekelas Enterprise Solution, Business Solution, Internet Service Provider/Other Liason Operators, Mobile Backhaul, dan lain-lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"><br />
Komitmen Membangun Infrastruktur</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;">Keseriusan TELKOM untuk membangun infrastruktur yang handal di level jaringan akses tak lepas dari <em style="mso-bidi-font-style: normal;">grand scenario</em> TELKOM Super Highway yang </span><span style="font-family: Calibri; color: #333333;">dicanangkan Dirut TELKOM Rinaldi Firmansyah pada tanggal 30 November 2009 di depan Presiden Republik Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;">Pada TELKOM Super Highway dibangun jaringan akses di antaranya MSAN, GPON dan softswitch yang akan membentuk <em>Next Generation Nationwide Broadband Network (NG-NBN)</em>, sehingga dimungkinkan tersedianya layanan TIME (Telecommunication, Information, Media dan Edutainment) dengan kecepatan dan kualitas yang tinggi dan dengan harga yang kompetitif. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;">Untuk mewujudkan cita-cita besar membangun TELKOM Super Highway, TELKOM akan terus membangun jaringan serat optik beserta Metro-E, IPCore, Terra Router. Pembangunan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Denpasar-Mataram atau yang dikenal dengan sebutan proyek JaKa2LaDeMa, membuat posisi TELKOM Super Higway semakin kuat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;">Dalam kaitan visi TELKOM Super Highway, serangkaian infrastruktur telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada akhir 2009 lalu. Infrastruktur dimaksud meliputi: <em>backbone</em> serat optik Padang-Bengkulu sepanjang 914 km; <em>backbone</em> serat optik Kalimantan-Sulawesi sepanjang 5.445 km; <em>IP core, Tera Router</em> dan <em>Metro-e</em><span style="mso-spacerun: yes;"> </span>dengan 921 node pada 10 kota (yaitu: Batam, Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Bandung, Makassar, dan Banjarmasin); <em>Soft-switch </em>Jakarta dengan kapasitas 172.000 SSL; dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">backbone</em> Batam ke <em style="mso-bidi-font-style: normal;">link</em> Internasional (proyek Batam-Singapura Cable System dan Asian America Gateway) yang merupakan infrastruktur untuk menghubungkan Indonesia ke Asia dan Amerika dengan kapasitas 40 Gbps (kini sudah meningkat menjadi 63 Gbps.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;">Rinaldi Firmansyah menyatakan pihaknya <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">telah dan akan terus mengerahkan seluruh sumberdaya yang dimiliki secara optimal untuk membangun infrastruktur yang handal, yang memungkinkan seluruh layanan berbasis TIME beroperasi</strong>. Ia mengakui, ada tuntutan capex yang tidak sedikit untuk mewujudkan itu semua. Sebagai contoh ia menjelaskan biaya teknologi MSAN ALU saja sekitar USD 150 per SSL, sehingga akan dibutuhkan biaya besar bila kapasitas <em style="mso-bidi-font-style: normal;">line</em> yang ada mencapai jutaan. Demikian pula untuk teknologi DSLAM yang biayanya mencapai USD 80 per Satuan Sambungan Layanan (SSL) atau teknologi GPON yang jelas tidak murah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;">Namun demikian, lanjut Rinaldi Firmansyah, pihaknya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa sepanjang TELKOM konsisten mengoptimalkan variabel ARPU-Bandwidth-Cost, posisinya justru akan semakin <em style="mso-bidi-font-style: normal;">leading </em>baik dari segi layanan maupun bisnis. “Kami sangat menyadari, begitu banyak harapan, termasuk dari Negara, ditujukan kepada TELKOM dalam hal penyediaan infrastruktur akses pita lebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini tentu sebuah tantangan yang mesti kami respon dengan upaya terbaik,” ujarnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri; color: #333333;"><span style="font-size: small;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=509</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju INSYNC 2014 Melalui MoU antara Divisi Access TELKOM dengan Fujikura Ltd. Co.</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=500</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=500#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 11:20:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah derasnya arus persaingan antar operator telekomunikasi, Telkom berupaya terus untuk tetap eksis dalam menjawab berbagai tantangan teknologi. Salah satunya adalah dengan melalui penerapan INSYNC 2014 (Indonesia Synchronize 2014).

 
INSYNC 2014 merupakan komitmen Telkom untuk mewujudkan future lifestyle dengan era digital berbasis NGN. Salah satu grand scenario infrastruktur pada INSYNC 2014 adalah network transformation, dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: x-small;">Di tengah derasnya arus persaingan antar operator telekomunikasi, Telkom berupaya terus untuk tetap eksis dalam menjawab berbagai tantangan teknologi. Salah satunya adalah dengan melalui penerapan INSYNC 2014 (<em><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;">Indonesia</span></em></span><em><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;"> Synchronize 2014</span></em><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;">).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;">INSYNC 2014 merupakan komitmen Telkom untuk mewujudkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">future lifestyle</em> dengan era digital berbasis NGN. Salah satu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">grand scenario </em>infrastruktur pada INSYNC 2014 adalah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">network transformation</em>, dimana penggunaan kabel tembaga akan terus dikurangi dengan menggunakan kabel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fiber optic</em>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;">Salah satu wujud dari <em style="mso-bidi-font-style: normal;">network transformation</em> adalah dengan penggelaran kabel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fiber optic</em> sampai ke kawasan perumahan, yaitu Fiber To The Home (FTTH). Untuk mendukung itu semua, bertempat di Restaurant Harum Sari Jakarta (02/08), Muhammad Awaluddin selaku EGM Divisi Access yang mewakili PT. Telkom melaksanakan penandatanganan MoU dengan Fujikura Ltd. yang diwakili oleh Mr. Takatoshi Arai, dimana Mr. Takatoshi Arai ini merupakan General Manager of Global Telecommunication Strategy and Marketing Division. Fujikura Ltd. merupakan salah satu perusahaan Jepang yang memiliki keahlian dalam bisnis teknologi jaringan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fiber optic</em>, mulai dari kabel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fiber optic</em> sampai dengan komponen jaringan kabel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fiber optic</em>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;">Tujuan utama dari penandatanganan MoU ini adalah sebagai sarana untuk mendukung kerja sama antara PT. Telkom, khususnya Divisi Access, dengan Fujikura Ltd. Kerja sama tersebut dalam bidang pertukaran pengetahuan, perancanaan, dan implementasi, serta kegiatan kolaborasi teknologi FTTH yang terkait dengan keahlian Fujikura Ltd.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; color: #000000; font-family: Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dalam suasana yang santai dan penuh keakraban, EGM Divisi Access mengatakan bahwa MoU ini jangan hanya sekedar sebuah perjanjian kerja sama yang tercantum dalam sebuah dokumen saja, tetapi harus dapat direalisasikan. Ia menawarkan kepada Fujikura Ltd. untuk membangun sebuah Pilot Project FTTH pada sebuah kawasan perumahan, dimana Fujikura dapat men-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">declare</em> bahwa pembangunan FTTH ini di-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">support</em> penuh oleh Fujikura Ltd.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pilot project</em> ini kebutuhan kabel serta komponen pasif untuk layanan FTTH akan disediakan oleh Fujikura, sedangkan untuk tenaga SDM disediakan oleh Divisi Access didampingi oleh tenaga ahli dari Fujikura. <span style="color: #000000;">Mr. Takatoshi Arai menyambut baik tawaran ini dan akan ditindaklanjuti oleh team dari Fujikura. Acara penandatangan ini diakhiri dengan saling memberikan cindera mata sebagai kenang-kenangan dari masing-masing pihak.***DIVA Telkom</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=500</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Broadband Enabled Society - enabling broadband anytime, anywhere, on any device</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=488</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=488#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 01:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Internet Changes Social Lifestyle
Internet telah merubah lifestyle dari milyaran orang di dunia dan memberikan manfaat bagi kehidupan sosial. Internet saat ini telah manjadi teknologi komunikasi yang paling signifikan digunakan setelah telepon atau layanan berbasis suara (voice). Dengan hampir jutaan pengguna setiap harinya, internet telah membawa dampak bagi seluruh aspek kehidupan kita seperti cara kita bekerja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Internet Changes Social Lifestyle</strong></p>
<p>Internet telah merubah lifestyle dari milyaran orang di dunia dan memberikan manfaat bagi kehidupan sosial. Internet saat ini telah manjadi teknologi komunikasi yang paling signifikan digunakan setelah telepon atau layanan berbasis suara (voice). Dengan hampir jutaan pengguna setiap harinya, internet telah membawa dampak bagi seluruh aspek kehidupan kita seperti cara kita bekerja, menghabiskan waktu luang, dan mencari informasi layanan publik. Generasi baru yang tumbuh dengan layanan instant messaging, download music, video on call, surfing, blog, tweet, facebook (saat ini pengguna facebook di Indonesia sudah menembus angka 24 juta user), menjadi cara yang lebih interaktif dan lebih privasi untuk dapat mengakses hal tersebut dimanapun dan dengan menggunakan alat apapun.</p>
<p>High-speed broadband Internet access telah mengakselerasi perubahan dan memberikan manfaat langsung dari apa yang disebut ‘revolusi digital’. Saat ini di Indonesia sendiri pelanggan Internet user telah mencapai 30 Juta pengguna dengan tingkat penetrasi yaitu 12,5% dari total penduduk Indonesia (http://www.internetworldstats.com). Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan jumlah internet user pada tahun 2000 yang baru mencapai 2 juta pelanggan. Dari data tersebut terlihat juga bahwa tingkat penetrasi tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam (25,7%), Thailand (24,4%), Philippines (24,5%), dan Malaysia (65,7%).</p>
<p><strong>Benefits to Society</strong></p>
<p>Menumbuhkan komunitas digital harusnya merupakan prioritas dari pemerintah melalui kemudahan akses ke layanan broadband untuk dapat memberikan manfaat dari sisi aspek sosial-ekonomi. Dimana berbagai aspek dapat ditingkatkan seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, komunikasi, industri, penelitian. Korelasi broadband ke tiap sektor tersebut sangat erat dimana posisi broadband adalah sebagai resource. Dengan broadband, kreativitas komunitas masyarakat diharapkan bisa bertambah disamping juga memfasilitasi inovasi dan pengembangan konten berbasis pengguna, seperti jejaring sosial maupun blog-blog pribadi. Hal ini membuka peluang bisnis entrepreneur dalam hal aplikasi, konten, dll. Namun, manfaat penuh dari broadband tersebut seperti e-government, e-health dan e-learning hanya dapat terjadi jika akses ke layanan broadband dapat terjangkau oleh semua orang.</p>
<p><strong>The New Broadband Opportunity</strong></p>
<p>Dengan tingkat penetrasi baru mencapai 12,5% maka masih banyak populasi yang belum dapat mengakses layanan broadband. Akses layanan broadband masih dominan di daerah urban dan belum secara menyeluruh menjangkau rural area. Pertanyaannya adalah bagaimana broadband dapat menjangkau daerah yang lebih luas, menghilangkan digital divide (kesenjangan digital) antara urban area – rural area dan menjadi terjangkau untuk semua orang?</p>
<p>Telkom sebagai operator penyelenggara layanan broadband telah merumuskan sebuah scenario TELKOM NEXT GENERATION – NATIONWIDE BROADBAND NETWORK (NG-NBN) yang merupakan bagian dari skenario INSYNC 2014 (Indonesia Synchronous 2014). Infrastruktur yang telah dibangun Telkom untuk mendukung layanan broadband di Indonesia berupa jaringan fiber optik Nusantara (Telkom Super Highway) yang menghubungkan seluruh pulau besar di Nusantara dengan implementasi Palapa Ring, Jawa-Sumatra-Kalimantan/JASUKA, Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Denpasar-Mataram / Jaka2Ladema, Mataram Kupang Cable System/MKCS, Ring-1 sd Ring-8), International Gateway (DMCS, TIS, dan AAG). Juga ada proyek – proyek untuk meningkatkan penetrasi broadband seperti penggelaran Wimax, fastel USO Desa Berdering, fastel USO Desa Pinter (punya internet). Dengan penggelaran infrastruktur seperti diatas diharapakan backlog dari penyediaan layanan broadband yaitu persoalan access availability dapat teratasi.</p>
<p>Selain itu seiring meningkatnya kebutuhan akan pemakaian bandwidth yang besar dan mobilitas yang tinggi saat ini, merupakan dua hal yang menjadi tantangan utama untuk jaringan telekomunikasi selama bertahun-tahun kedepan yang terus diperbincangkan dan terus dikembangkan. Karena hal itu orang mulai beralih ke teknologi transmisi kabel optik untuk mendapatkan bandwith yang lebih tinggi dengan menggunakan teknologi FTTH (Fiber to the home) teknologi untuk telekomunikasi yang menggantikan jaringan kabel tembaga dengan Fiber optik untuk wilayah perumahan. Instalasi teknologi FTTH (fiber to the home) akan mengembangkan industri multimedia seperti HDTV (High Definition TV), download musik dan video, serta layanan teleconference. Hal ini akan mempunyai dampak yang besar dalam dunia ekonomi dan akan memberikan bentuk baru yang muncul dari dunia bisnis dalam sektor teknologi. Diharapkan operator jaringan akan menghasilkan keuntungan baru (new margin) dan dapat menutupi biaya instalasi dari penggelaran jaringan FTTH ini.</p>
<p>Sebagai contoh yang sudah diimplementasikan Telkom dalam penggelaran jaringan otik berbasis FTTH adalah di Perumahan Green Mansion yang berada di Jakarta Barat yang merupakan konsep hunian dan rukan di tengah kota (kapasitas 470 ruko dan rukan) yang serba lengkap dan modern, dengan berbagai fasilitas yang tertata dan di desain dengan nuansa alam. Selain itu lokasi yang mudah dicapai dari berbagai arah, akses langsung tol serta gemilang kenyamanan dan keamanannya, menjadikan Perumahan Green Mansion Jakarta Barat sebagai salah satu hunian premium yang tiada duanya.</p>
<p>Konsep smart building di 470 unit di Perumahan Green Mansion ini merupakan pilot project implementasi triple play service berbasis FTTH di Indonesia, mengingat calon penghuni adalah profesional dan dari kalangan business yang membutuhkan beragam layanan. Inisiatif yang dimulai sejak akhir 2009 oleh Divisi Access ini menyepakati penggunaan teknologi FTTH (fiber to the home) dengan menggunakan platform GPON (Gigabyte Passive Optical Network) yang dapat mendukung layanan triple play service (Access Internet kecepatan tinggi, Voice over Broadband/VoBB dan IPTV). Hal ini sesuai dengan roadmap INYNC 2014 untuk mendukung visi Broadband TELKOM yang salah satunya yaitu Home Digital Environment melalui implementasi penggelaran FTTC/FTTH dengan  menggunakan MSAN &amp; GPON Technology sehingga dapat mengantarkan bandwith yang lebih besar ke pelanggan.</p>
<p>Di sisi lain untuk mendukung mobilitas yang tinggi di layanan jaringan, WiMAX adalah solusi yang tepat karena memiliki bandwidth dengan kecepatan data yang tinggi (sampai 70 MBps) dan juga kemampuan WiMAX dapat melayani pelanggannya dengan area yang lebih luas sejauh 50 km maksimal dengan tingkat kompatibilitas menghantarkan data dengan transfer rate yang tinggi. Sedangkan dari segi kondisi saat proses komunikasinya, teknologi WiMAX dapat melayani para subscriber, baik yang berada dalam posisi Line Of Sight (posisi perangkat - perangkat yang ingin berkomunikasi masih berada dalam jarak pandang yang lurus dan bebas dari penghalang apa pun di depannya) dengan BTS maupun yang tidak memungkinkan untuk itu (Non - Line Of Sight). Jadi di mana pun para penggunanya berada, selama masih masuk dalam area coverage sebuah BTS (Base Transceiver Stations), mereka mungkin masih dapat menikmati koneksi yang dihantarkan oleh BTS tersebut.</p>
<p>Kombinasi dari manfaat broadband dengan kemudahan access dimanapun akan membuka peluang munculnya aplikasi dan sumber pendapatan baru. Dari angka 30 juta pengguna internet tersebut 1,4 juta dilayani dengan Speedy yang merupakan high-speed broadband Internet access dari Telkom. Sedangkan layanan Flash dari Telkomsel telah mencapai 2,2 juta pelanggan. Telkom juga akan melakukan komersialisasi layanan IPTV di akhir tahun ini. Sehingga broadband internet access untuk perumahan dan kantor di urban area tidak lagi menjadi issue, tapi bagaimana layanan broadband internet access tersebut tersedia dimana saja. Untuk itu Telkom terus berkomitmen bagaimana menjaminkan broadband connectivity dimanapun.</p>
<p><strong>Enabling Multimedia Revolution</strong></p>
<p>Kemunculan layanan IPTV menandakan dimulainya revolusi multimedia dan merupakan potensi revenue baru bagi operator telekomunikasi. IPTV mengubah komunikasi searah menjadi dua arah dengan menawarkan seamless media interactivity, communication, convenience, entertainment and personalization. Dari sisi pembangunan infrastruktur telah dilakukan untuk mendukung broadband internet access saat ini telah melebihi kapasitas &amp; kapabilitas. Potensi pasar untuk IPTV sendiri diyakini sama besarnya dengan pasar broadband dan diprediksi akan menjadi mass market pada beberapa tahun kedepan.</p>
<p><strong>Broadband Connectivity Gets Moving</strong></p>
<p>Saat ini, akses ke broadband lebih banyak dilakukan melalui desktop pc atau laptop, tapi konsumen mencari cara koneksi melalu terminal (device) lain dan pada situasi yang berbeda baik melalui laptop atau mobile device lainnya pada saat berpindah dari satu tempat ketempat lainnya, pada saat menonton TV maupun pada saat mendengarkan MP3. Disamping itu juga konsumen inggin selalu berhubungan ke keluarga, teman dan rekan kerja baik saat bekerja maupun ketika mempunyai waktu luang.</p>
<p>Dengan perkembangan teknologi broadband saat ini (Metro Ethernet Access ~10 Gb, Managed Layer 3 Switch ~ 1 Gb, GPON ONT ~ 70 Mb, GPON ONU-VDSL2 ~ 20 Mb, MSAN -ADSL2+ ~ 10 Mb) memungkinkan operator untuk menawarkan broadband access internet dengan beragam perangkat untuk berkomunikasi dan menikmati layanan multimedia pada saat bergerak dan dimana saja dengan kualitas yang sama baiknya seperti di rumah dan dikantor. Sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan produktifitas dengan memberikan akses dan informasi kepada pelanggan.</p>
<p><strong>Convergence Means Convenience</strong></p>
<p>Dengan variasi terminal dan pertumbuhan layanan kenyamanan pelanggan adalah sebuah hal yang fundamental agar dapat melakukan penterasi ke mass market. Sehingga harapan dari konsumen adalah dapat melakukan akses kemanapun melalui terminal apapun yang dapt menghantarkan bermacam digital media content – video, games, TV, Radio. Dengan konvergensi broadband networks, pelanggan dapat menikmati interaksi dengan media, interaksi 2 arah ke content provider dan network operator yang dapat meningkatkan broadband experience pelanggan seperti interactive TV shows dengan social networking sites.</p>
<p><strong>Conclusion</strong></p>
<p>Broadband telah menjadi bagian penting khususnya pada aktivitas yang menggantungkan pada penyediaan data dan informasi. Aktifitas Social and economic development di setiap negara di bumi ini tergantung dari broadband. Menciptakan mass market untuk broadband internet access tidak hanya bergantung pada teknologinya tetapi lebih kepada availability (coverage), economic of scale, service dan business model. Untuk itu TELKOM sebagai operator penyedia jasa internet berkomitmen untuk menyediakan broadband access berkecepatan tinggi sekaligus mendorong masyarakat untuk menyadari manfaat dari teknologi tersebut .</p>
<p>Salam hormat,</p>
<p>Jakarta, 29 Juni 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=488</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Access Learning Academy</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=482</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=482#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 12:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan transformasi organisasi di tubuh Divisi Access PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dimaknai dengan perubahan dalam 3 hal yang mendasar yaitu perubahan perlakuan pada pelanggan (changes in customer perception), perubahan pada Moda Operasi (changes ini operation model) dan perubahan pada pengelolaan SDM (changes in Access people management). Berbicara “people management” yang juga merupakan salah satu core [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan transformasi organisasi di tubuh Divisi Access PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dimaknai dengan perubahan dalam 3 hal yang mendasar yaitu perubahan perlakuan pada pelanggan (changes in customer perception), perubahan pada Moda Operasi (changes ini operation model) dan perubahan pada pengelolaan SDM (changes in Access people management). Berbicara “people management” yang juga merupakan salah satu core competence di Divisi Access ada beberapa hal yang saat ini telah dan sedang dilakukan yaitu penataan organisasi, seperti : implementasi outsource management,  capability building para patriot Divisi Access melalui setup change agent, setup Access Learning Academy dan  program sertifikasi.</p>
<p>Access Learning Academy atau disebut juga ALA merupakan bagian dari 7 modules lean operation methodology yang terdiri dari strategy &amp; aspriration, breakthrough roadmap &amp; charters, 3-lens operating model, performance management, change agents, learning center &amp; academy, dan communication. Lean operation methodology merupakan metode untuk mengidentifikasi, evaluasi dan mendesign solusi dari aktifitas2 operational yang dinilai memiliiki potential impact terhadap perbaikan business process dan melibatkan jumlah SDM yg besar.</p>
<p>ALA atau yang disebut juga learning center pada konsep 7 modules lean operation - Divisi Access mengembangkan suatu metode “field &amp; forum” yang menyeimbangkan antara theory dan practice di lapangan dengan curriculum berbasis 3 lens framework. Konsep 3 lens framework yang juga salah satu dari 7 modules lean operation methodology terdiri dari operating system, management infrastructure dan mindset &amp; behaviors yang merupakan basis operating model untuk mendorong capability building dan mengubah mindset &amp; behaviour para technician field dengan menerapkan “Go &amp; See” principles. “Go &amp; See” principles merupakan kombinasi dari field work,  on the job coaching dan forum learning untuk menyeimbangkan antara theory dan practice di lapangan.</p>
<p>Access Learning Academy (ALA) yang dikembangkan Divisi Access fokus kepada installation &amp; material spesification yang dirasakan sangat diperlukan dalam aktifitas operasional dilapangan. ALA diharapkan menjadi media untuk menemukenali dan mencari solusi dari permalahan yang ditemukan di lapangan melalui forum knowledge yang rutin dilaksanakan dengan demikian dapat terjadi continuous improvement.  Sehingga outputnya adalah ALA  dapat meningkatkan skill technician field yang berdampak pada peningkatan produktifitas. Berdasarkan data ditemukenali hampir 60-70% dari aktifitas technician field merupakan waste, sedangkan untuk kategori value added dan incidental masing-masing 17%.</p>
<p>Selain itu ALA dibutuhkan untuk menyiapkan multi-skill para patriot access di site operation mengingat saat ini Divisi Access sudah menggelar seluruh platform technology yang ada (xDSL, MSAN, GPON, Wmax, FTTx),  sehingga kompetensi SDM untuk mempersiapkan suatu roadmap infrastruktur menuju INSYNC 2104 tersebut dimana penggelaran infrastructure environment base on NG-NBN (next generation nation wide broadband network). Dengan demikian dukungan &amp; keberadaan ALA sebagai capability building dirasakan sangat bermanfaat bagi pencapaian kinerja operasi.</p>
<p>ALA sendiri saat ini telah dikembangkan sampai pada tingkat Area Access dengan penanggungjawab adalah Manager Access Area dan penanggung jawab operasional ALA adalah ASMAN yang ditunjuk Manager Area.  Beberapa curriculum yang menjadi materi di ALA diangkat dari permasalahan yang ditemukenali di lapangan yaitu Pemahaman Pengelolaan Proses Bisnis, SOA &amp; Audit, Pengelolaan Pengendalian Pekerjaan Mitra/POJ, Pemahaman &amp; Pengendalian Roll Out Lean Operation, Perencanaan JARLOKAT &amp; KAF, Pemahaman Performansi JARAKSES, Dasar-dasar Optik, DSLAM Huawei, Pengelolaan Data Jarkases, Kewaspangan, Pengenalan IP. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, ALA dilengkapi alat-alat (tools) terkait JARLOKAT, JARLOKAF dan SPEEDY. Selain itu disiapkan juga modul &amp; dokumen referensi untuk mendukung pelaksanaan ALA. Kalau di Singapore Airlines memiliki SIA Learning Academy, mengapa tidak TELKOM dengan Divisi Access-nya bangga memiliki Access Learning Academy-nya ? Semoga !</p>
<p>Jakarta, 29 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=482</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Modernisasi Jaringan Access TELKOM Menuju INSYNC 2014 Ready</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=473</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=473#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 04:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa waktu lalu kita ketahui bersama adanya penandatanganan kesepakatan bersama antara PT. TELKOM dengan PT. INTI, dua BUMN besar di Indonesia dalam program Sinergi BUMN, yang dilakukan dalam rangka percepatan program transformasi bisnis PT. TELKOM. Program ini sendiri berfokus pada pekerjaan optimalisasi jaringan akses primer tembaga TELKOM untuk dimodernisasi menjadi jaringan akses fiber optik guna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Candara;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Candara; mso-bidi-font-family: Arial;">Beberapa waktu lalu kita ketahui bersama adanya </span><span style="font-family: Candara;">penandatanganan kesepakatan bersama antara PT. TELKOM dengan PT. INTI, dua BUMN besar di Indonesia dalam program Sinergi BUMN, yang dilakukan dalam rangka percepatan program transformasi bisnis PT. TELKOM. Program ini sendiri berfokus pada pekerjaan optimalisasi jaringan akses primer tembaga TELKOM untuk dimodernisasi menjadi jaringan akses fiber optik guna peningkatan kualitas layanan broadband. TELKOM berharap akan mengganti semua kabel tembaga menjadi optik, yang mana masih tersisa 10 juta satuan sambungan primer kabel tembaga dan 12 juta satuan sambungan sekunder tembaga. Untuk menuntaskan pengalihan infrastruktur tersebut membutuhkan waktu cukup lama, dan tergantung area atau lokasi kabel. Rencananya tahun ini TELKOM berencana akan merubah sejumlah 500 ribu satuan sambungan kabel tembaga menjadi menjadi kabel optik dan direncanakan sampai dengan 2014 mencapai 5 juta satuan sambungan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Seiring meningkatnya kebutuhan akan pemakaian bandwidth yang besar dan mobilitas yang tinggi saat ini, merupakan dua hal yang menjadi tantangan utama untuk jaringan telekomunikasi selama bertahun-tahun kedepan yang terus diperbincangkan dan terus dikembangkan. Di satu sisi saat ini jaringan telekomunikasi ke rumah-rumah didominasi oleh jaringan kabel tetap (fixed wireline) yang menggunakan tembaga sebagai saluran transmisi data. Fixed wireline ini memiliki kekurangan karena dianggap tidak dapat memberikan bandwith yang tinggi dan kecepatan tinggi dibandingkan dengan kabel fiber optik. Karena hal itu orang mulai beralih ke teknologi transmisi kabel optik untuk mendapatkan bandwith yang lebih tinggi dengan menggunakan teknologi FTTH (Fiber to the home) teknologi untuk telekomunikasi yang menggantikan jaringan kabel tembaga dengan Fiber optik untuk wilayah perumahan. Instalasi teknologi FTTH (fiber to the home) akan mengembangkan industri multimedia seperti HDTV (High Definition TV), download musik dan video, serta teleconference dilaksanakan, hal ini akan mempunyai dampak yang besar dalam dunia ekonomi dan akan memberikan bentuk baru yang muncul dari dunia bisnis dalam sektor teknologi. Juga operator jaringan akan menghasilkan keuntungan baru untuk meningkatkan transfer data, dan dapat menutupi biaya instalasi dari jaringan FTTH. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Di sisi lain untuk mendukung mobilitas yang tinggi di layanan jaringan, WiMAX adalah solusi yang tepat karena memiliki bandwidth dengan kecepatan data yang tinggi (sampai 70 MBps) dan juga kemampuan WiMAX dapat melayani pelanggannya dengan area yang lebih luas sejauh 50 km maksimal dengan tingkat kompatibilitas menghantarkan data dengan transfer rate yang tinggi. Sedangkan dari segi kondisi saat proses komunikasinya, teknologi WiMAX dapat melayani para subscriber, baik yang berada dalam posisi Line Of Sight (posisi perangkat - perangkat yang ingin berkomunikasi masih berada dalam jarak pandang yang lurus dan bebas dari penghalang apa pun di depannya) dengan BTS maupun yang tidak memungkinkan untuk itu (Non - Line Of Sight). Jadi di mana pun para penggunanya berada, selama masih masuk dalam area coverage sebuah BTS (Base Transceiver Stations), mereka mungkin masih dapat menikmati koneksi yang dihantarkan oleh BTS tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Candara;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Kembali kepada program modernisasi access tembaga, program tersebut dilakukan dengan reboundary service area Rumah Kabel (RK) tembaga dengan meminimalkan segmen copper sekunder eksisting &lt; 1 km untuk mendapatkan jaminan bandwith sampai dengan 10 Mbps. Untuk jaminan bandwith sampai dengan 20 Mbps ke pelanggan (selected) dilakukan melalui reboundary service area RK dengan meminimalkan segmen copper sekunder eksisting &lt;=300 m. Sedangkan untuk mendapatkan bandwith &gt;20-100 Mbps untuk pelanggan tertentu maka modernisasi jaringan access dilakukan dengan migrasi ke teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Program modernisasi Jaringan Access ini merupakan bagian dari rolling master plan INSYNC 2014 (2010 -2014) PT.TELKOM untuk Jaringan akses Fixed Wireline. Program ini bertujuan agar infrastruktur access broadband yang menjangkau seluruh pelanggan Telkom dapat memiliki bandwith dengan range speed 1 sd 100 Mbps dan mayoritas kecepatan 4 – 20 Mbps dengan menggunakan infrasruktur fiber optik.<span style="mso-spacerun: yes;">   </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Bagi PT. TELKOM, kerjasama ini dapat mempercepat dan meminimalkan biaya dalam pencapaian tujuan Indonesia Synchronized (INSYNC 2014) khususnya dalam rangka menuju <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">terbentuknya Next Generation Nationwide Broadband Network (NG-NBN)</strong>. Dengan demikian percepatan pengalihan kabel tembaga menjadi kabel optik sejalan dengan program transformasi bisnis perseroan menuju <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">perusahaan telecommunication, information, multimedia and edutainment (TIME).</strong> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Satu hal yang pasti dari program modernisasi tersebut adalah merupakan bagian dari usaha untuk bagaimana mewujudkan 3 (tiga) konsep TELKOM’s Broadband Vision<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>yaitu Broadband for Digital Home dengan konsep Home Digital Environment (Triple Play), Broadband for Enterprise, dan Broadband for Other License Operator (OLO). Untuk layanan Broadband for Digital Home sendiri TELKOM akan melakukan komersialisasi Triple Play (Voice over Broadband, Data Internet &amp; IPTV) bulan Juli 2010 ini dengan meluncurkan layanan IPTV di beberapa kota besar di Indonesia. Selain itu juga beberapa program education &amp; entertainment yang telah diluncurkan sebelumnya semakin mengokohkan TELKOM dalam memasuki<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>porto folio barunya berbisnis TIME (Telecommunication, Information, Media dan Edutainment).<strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Salam,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;">Muhammad Awaluddin</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: Candara;"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p><font face="Candara"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<p></font></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=473</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Campus Industry Partnership : Membangun Sinergi Antara Kampus &#038; Industri</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=468</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=468#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 13:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Keunggulan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas kepakaran SDM yang berkemampuan lanjut. Mereka diharapkan mampu melakukan penelitian yang mendasar dan mendalam baik dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan &#38; Teknologi maupun dalam rangka pemecahan masalah pembangunan. Kemampuan bangsa indonesia menguasai Ilmu Pengetahuan &#38; Teknologi perlu terus ditingkatkan agar mampu membudiyakan sumber-sumber alam, serta diarahkan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keunggulan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas kepakaran SDM yang berkemampuan lanjut. Mereka diharapkan mampu melakukan penelitian yang mendasar dan mendalam baik dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan &amp; Teknologi maupun dalam rangka pemecahan masalah pembangunan. Kemampuan bangsa indonesia menguasai Ilmu Pengetahuan &amp; Teknologi perlu terus ditingkatkan agar mampu membudiyakan sumber-sumber alam, serta diarahkan untuk pengembangan keunggulan kompetitif. Sehingga terjadi keseimbangan antara aset negara berupa sumber daya alam (SDA) dengan aset lainnya berupa sumber daya manusia (SDM).  Kekayaan alam yang melimpah harus diimbangi dengan kemampuan dan kualitas sumber daya manusianya.<br />
Untuk sampai pada taraf tersebut, maka generasi muda Indonesia  sebagai generasi penerus memerlukan penanganan-penanganan yang komprehensif. Dalam rangka memenuhi kebutuhan industrialisasi dan meningkatkan daya saing bangsa menghadapi ekonomi pasar yang makin terbuka, maka penanganan bidang akademik merupakan suatu keharusan bagi kita untuk memperhatikan keperluan akan penguasaan ilmu Pengetahuan &amp; Teknologi yang merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan masa depan bangsa. Oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan akademik diperlukan tidak hanya penguasaan ilmunya tetapi juga pemeliharaan, penerapan, pengembangan dan penciptaan ilmu Pengetahuan &amp; Teknologi itu sendiri dalam rangka menunjang pengembangan industri indonesia. Pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana peranan industri TELCO atau bagaimana hubungan industri TELCO dengan universitas sebagai institusi pendidikan dapat memenuhi kebutuhan hal tersebut diatas ?.<br />
 <br />
INDIKATOR DAYA SAING BANGSA<br />
 <br />
Perubahan generasi ini perlu dicermati agar bangsa kita bisa menghasilkan suatu generasi yang punya daya saing dan  lepas dari keterpurukan. Dari perspektif daya saing berdasarkan survey dari World Economic Forum 2009 sebagai ukuran relatif kemajuan bangsa-bangsa di dunia dengan melakukan pengukuran terhadap 12 faktor antara lain higher education &amp; training, technology readiness dan innovation. Ranking Indonesia terus merosot, pada tahun 1999 Indonesia di peringkat 37, tahun 2006 turun ke peringkat 50 dan  tahun 2007 merosot lagi ke peringkat 54, jauh tertinggal dari Singapura (7), Malaysia (21), bahkan Thailand (28). Pada tahun 2008 Indonesia kembali merosot ke peringkat 55 sementara Singapura (5), Malaysia (21) dan Thailand (34).<br />
 <br />
Selain berdasarkan data World Economic Forum, indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan bangsa adalah HDI (Human Development Index) dan DOI (Digital Opportunity Index). Indonesia masih menunjukkan pencapaian yang belum menggembirakan. HDI adalah pengukuran perbandingan dari life expetancy index, education index dan GDP index untuk semua negara di seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju , negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. Dari Negara-negara yang diteliti oleh UNDP (United Nations Development Programme) tahun 2006, Indonesia berada pada urutan 109 dari 179 negara, dengan indeks 0.726, turun dari posisi sebelumnya di urutan 110. Posisi ini cukup jauh dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia (urutan 63/0.823), Thailand (urutan 81/0.786) dan Filipina (urutan 102/0.745).<br />
 <br />
 <br />
Sedangkan untuk indikator DOI (Digital Opportunity Index) merupakan suatu index yang disepakati oleh ITU (International Telecommunication Union), yang mengukur 3 aspek penting dari suatu negara dengan aspek sebagai berikut :<br />
 <br />
1.       Opportunity; kesempatan seseorang untuk mendapatkan akses internet baik dari kesempatan  pada aspek Affordability maupun kesempatan dalam aspek Coverage<br />
2.       Infrastructure; sejauh mana sesorang memiliki akses untuk mendapatkan network serta sejauh mana sesorang dapat mendapatkan device yang memadai untuk terciptanya akses internet.<br />
 <br />
3.      Utilization; seberapa tinggi tingkat penggunaan akses internet digunakan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari (usage) dan dapat meningkatkan derajat kehidupannya (quality).<br />
 <br />
 <br />
Berdasarkan data yang dikeluarkan ITU tahun 2007, Indonesia berada di peringkat 116  dari 181 negara, dengan indeks 0.34. Posisi ini cukup jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia (urutan 57/0.5), Thailand (urutan 82/0.43) dan Filipina (urutan 102/0.38).<br />
 <br />
 <br />
PERANAN TIK MENUJU PEMBERDAYAAN GENERASI BARU<br />
 <br />
Untuk berkompetisi dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), negara memerlukan warga negara terdidik dengan skill tinggi melalui pembelajaran berbasis TIK &amp; e-learning yang effektif dan ter-integrasi. Penggunaan TIK yang effektif dan terintegrasi dalam pembelajaran e-learning akan meningkatkan kemampuan akses secara global dan membuka peluang untuk berkompetisi secara global pula.<br />
Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Sehingga dapat membantu mahasiwa dalam melakukan penelitian, riset, tugas akhir dll. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan. Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Makalah dan jurnal penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharing. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi. Sharing information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.<br />
Saat ini peranan Teknologi Informasi &amp; Komunikasi (TIK) dalam perubahan generasi baru yang disebut C Generation dimaknai oleh beberapa perkembangan baru dari bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dengan Jumlah satuan sambungan telepon seluler yang telah melebihi 170 juta dan pengguna internet sekitar 25 juta pada awal 2009, maka hubungan (connection) antar manusia/organisasi menjadi lebih mudah. Konvergensi (convergency) antar komputer, komunikasi dan penyiaran juga memudahkan kolaborasi (collaboration) kerja antar penggunanya (e.g. facebook, web 2.0). Hal ini juga memicu dihasilkan digital service creative seperti Music, Video, Games, Books dan Mags &amp; Print. Semua ini akan mengasilkan karya budaya yang lebih baik (contextual). Inilah yang dapat disebut sebagai generasi K (C generation) yang dapat dimaknai sebagai suatu generasi baru yang dicirikan oleh Connection,  Convergency, Collaboration, Content Creative dan Contextual.<br />
Dalam kaitan ini Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat erat dengan transformasi perubahan generasi, mulai munculnya teknologi komunikasi pita sempit, pita lebar, mobilitas, konvergensi dengan computer dan broadcasting sampai dengan terjadinya collaboration melalui  jejaring sosial seperti Web 2.0 dan juga lahirnya konten kreatif. TIK menjadi agen pendorong utama dibalik kemunculan &#8220;C Generation&#8221; yang kehadirannya tidak bisa begitu saja diabaikan. Jika dibarengi dengan suatu orientasi secara nasional, maka kondisi ini tentu akan memberi nilai lebih dalam menghela pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik. Sebaliknya tanpa ada suatu orientasi, panduan serta kesiapan nasional, maka kemunculan fenomena ini hanya akan menggilas sendi-sendi kehidupan bangsa.<br />
 <br />
LINK &amp; MATCH KAMPUS DAN INDUSTRI<br />
 <br />
Hal yang perlu kita yakini adalah bahwa prioritas pengembangan sumber daya manusia (SDM) haruslah dimulai dengan membangun institusi atau kelembagaan negara maupun swasta yang memiliki design dan system untuk menciptakan manusia trampil, disiplin, inovatif dan kreatif sehingga mampu menciptakan nilai tambah. Untuk itu diperlukan kerjasama kampus dengan kalangan Industri agar lulusan kampus dapat memenuhi standar kualitas industri. Saat ini kualitas lulusan sarjana teknik masih berada jauh dari standar yang ditetapkan industri antara lain disebabkan kurangnya waktu praktik yang ditetapkan kurikulum, minimnya peralatan praktik yang dimiliki kampus, serta keterbatasan kemampuan dosen pengajar dimana hal ini dialami juga baik lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk jenjang sarjana maupun diploma.<br />
 <br />
Berdasarkan data World Economic Forum 2009, untuk quality of educational system di Indonesia berada pada peringkat 39 dibawah Malaysia (18) dengan nilai 4,2 dari scala 7. Angka tersebut menyatakan tingkat kualitas pendidikan di Indonesia terhadap kebutuhan competitive economy. Hal ini menyebabkan lulusan sarjan teknik kesulitan dalam mengikuti perkembangan industri yang terus semakin berkembang dan akhirnya sulit bersaing dalam bursa kerja. Lulusan perguruan tinggi dalam negeri belum dianggap sebagai tenaga siap pakai sehingga terlebih dahulu diberikan pelatihan untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi yang direkrutnya. Selain itu dalam hal inovasi atau hasil-hasil penelitian di dalam kampus masih belum dapat terserap sektor industri secara maksimal disebabkan produk hasil penelitian tersebut belum marketable. Harapannya adalah inovasi di dunia pendidikan tinggi tidak hanya berhenti sebagai prototipe atau publikasi jurnal tapi bisa dibawa hingga memiliki nilai ekonomis dan dapat dijadikan peluang bisnis. Untuk itu hal yang perlu dilakukan adalah menjadikan kampus sebagai tempat dimana teknologi diaplikasikan dan dapat dipergunakan oleh masyarakat industri. Hal ini tidak perlu terjadi jika komunikasi antara pihak kampus dan industri terjalin dengan baik. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kompetensi yang harus dimilikinya termasuk peluang karir di dunia industri.<br />
 <br />
Dalam kaitannya untuk implementasi Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat diperlukan kerjasama yang baik antara kampus dan industri. Output dari implementasi Tri Dharma tersebut menimbulkan beberapa masalah antara lain :<br />
1.          Kurikulum Perguruan Tinggi yang berlaku pada saat ini dirasa belum menjawab tantangan global yang memerlukan sumber daya manusia yang unggul.<br />
2.          Kondisi fasilitas baik perangkat keras dan lunak di Perguruan Tinggi yang sudah tidak memadai untuk mendukung proses pendidikan &amp; penelitian untuk terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.<br />
3.         Output dari penelitian (tugas akhir) yang dilakukan mahasiswa tidak langsung dapat diaplikasikan di dunia industri.<br />
Adanya kesenjangan atau ketidakserasian antara pendidikan dengan dunia industri merupakan masalah yang harus diantisipasi bersama oleh semua komponen bangsa. Hal ini dimaknai bahwa Mahasiswa dan Lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi bagian dari perkembangan industri. Kenyataannya adalah saat ini jurang antara dunia pendidikan tinggi dan kalangan industri masih sangat lebar. Setiap tahun, ribuan penelitian dilakukan para mahasiswa dari berbagai jurusan untuk menyelesaikan tugas akhir (TA). Tetapi karya-karya tersebut sering terbuang sia-sia tanpa melahirkan manfaat bagi masyarakat luas. Harapan kita adalah bahwa karya-karya mahasiswa yang disusun selama berbulan-bulan atau bahkan beberapa tahun itu mampu menawarkan konsep atas permasalahan-permasalahan atau kebutuhan di dunia Industri. Kondisi ini tidak lain disebabkan metode link and match antara perguruan tinggi dan industri tidak berjalan baik.  Walaupun selama ini relasi itu sudah terbangun melalui berbagai program seperti co-op (Co-operative education), PKL (Praktek kerja lapangan), Kulap (kunjungan lapangan) hingga penelitian bersama. Tetapi bentuk kerja sama tersebut belum sepenuhnya berjalan maksimal atau “not good enough”. Civitas perguruan tinggi lebih banyak ”meminta” ketimbang ”memberi”. Akibatnya, dari sisi dunia industri merasa enggan untuk melakukan kegiatan ”link and match” lebih lanjut. Untuk itu diharapkan kampus menunjukkan sikap lebih proaktif dalam menggandeng kalangan industri. Kampus harus menyadari keinginan industri, yakni sisi teknis dan ekonomis serta praktis dan aplikatif.<br />
 <br />
Sedangkan saat ini dunia industri agar dapat bersaing dalam global market memerlukan SDM yang berkualitas dan siap pakai. Selain kebutuhan akan SDM yang berkualitas dunia industri terutama industri kecil &amp; menengah juga membutuhkan tenaga ahli dan sumber daya lainnya dalam menciptakan atau mengembangkan produk baru dan membuka akses pasar. Sehingga dengan dipenuhinya kebutuhan tersebut industri dapat fokus pada pemasaran dan pembangunan jaringan distribusi. Permasalahan inilah yang membutuhkan link &amp; match antara kampus dan industri sehingga dengan terjalinnya hubungan tersebut maka kampus dan industri dapat saling menguntungkan.<br />
Di luar negeri, prinsip link and match ini telah berjalan, sehingga lulusan dari sekolah dan kampus bisa terserap dengan baik. Ada kerja sama yang erat antara dunia industri, sekolah, dan kampus dalam menghasilkan lulusan bermutu. Kerja sama dilakukan dalam bentuk pembuatan kurikulum dan pelatihan. Dengan kurikulum dan pelatihan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, maka lulusan menjadi siap pakai untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Prinsip ini bersandar pada kebutuhan (demand) bukan supply. Jadi, pendidikan harus mengacu pada kebutuhan pasar kerja bukan hanya menyuplai tanpa memperhatikan kebutuhan. Dengan cara ini, selain kompetensi meningkat karena adanya kerja sama pendidikan dengan dunia industri dan bisnis, dampaknya dapat menekan pengangguran. Sebabnya, jumlah lulusan telah sebanding dengan kebutuhan pasar kerja. Intinya adalah “we always have too many people but not enough”. Kita memiliki banyak tenaga kerja, akan tetapi tidak disertai dengan ‘competency based’ yang dibutuhkan organisasi/industri.<br />
 <br />
PENGEMBANGAN TECHNOPARK<br />
 <br />
Sebagai bagian komponen pendukung blue print ICT Indonesia, pengembangan TECHNOPARK sangat diperlukan. Technopark dapat diartikan sebagai tempat/kawasan dimana teknologi dapat diaplikasikan sehingga dapat dipergunakan oleh masyarakat industri. Tujuan dari Technopark ini untuk membuat link yang permanen antara perguruan tinggi (akademisi), pelaku industri / bisnis / finansial, dan pemerintah. Technopark mencoba menggabungkan ide, inovasi, dan know-how dari dunia akademik dan kemampuan finansial (dan marketing) dari dunia bisnis. Diharapkan penggabungan ini dapat meningkatkan dan mempercepat pengembangan produk serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke produk yang dapat dipasarkan, dengan harapan untuk memperoleh economic return yang tinggi.<br />
 <br />
Pada intinya, keberadaan ”Technopark” ingin mengokohkan kembali hubungan antara industri dengan dunia pendidikan tinggi. Diharapkan perguruan tinggi (diwakili dosen, peneliti dan mahasiswa) senang dengan adanya Technopark di kampus karena mereka dapat langsung berhadapan dengan masalah nyata yang dihadapi oleh industri. Mahasiswa dapat menggunakan pengalamannya ini sebagai referensi ketika dia mencari pekerjaan lain, jika dia tidak tertarik untuk menjadi bagian dari perusahaan yang bersangkutan. Sementara bagi industri adalah adanya akses ke sumber daya manusia (SDM) di kampus. Industri dapat mengakses ide, inovasi, dan teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti di kampus.<br />
Sebuah ”Technopark” yang ideal setidaknya menyediakan tiga akses utama. Pertama, akses kepada pakar yang ada dikampus. Banyak dari industri (terutama menengah) tidak memiliki tenaga ahli dalam bidangnya. Akibatnya inovasi produknya tidak bisa berjalan secara maksimal. Dengan akses kepada pakar maka industri bisa menawarkan kerjasama penelitian industri. Pihak peneliti mendapatkan objek penelitian yang pas, sedangkan industri mendukungnya dengan pendanaan. Kedua akses kepada fasilitas kampus, seperti perpustakaan, peralatan dan perlengkapan laboratorium, internet center dan fasilitas fisik lainya. Umumnya perguruan tinggi memiliki berbagai peralatan yang canggih, yang mustahil dimiiliki oleh pelaku industri menengah kebawah. Ketiga busines center, dimana interface antara perguruan tinggi dengan industri terjadi. Katakanlah begini, jika ada industri memiliki masalah maka ia bisa datang ke busines center ini untuk berkonsultasi apakah ada sumber daya manusia atau fasilitas yang dapat membantu. Busines center, jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan keuntungan eknomis yang cukup besar.<br />
 <br />
BENCHMARK CASE :  MIMOS TECHNOPARK MALAYSIA<br />
 <br />
Berkaca pada negara tetangga yaitu Malaysia yang mempunyai sebuah badan research (MIMOS) yang di tunjuk Kerajaan (Pemerintah) Malaysia untuk melakukan research untuk applied technology terkini. Misi dari MIMOS adalah menjadi pionir ICT untuk menjawab kebutuhan perkembangan  dunia industri yang competitive.<br />
Mimos menjembatani research dari industri, universitas, pemerintah untuk berkolaborasi dan berpartner dalam menghasilkan teknologi terapan. Area research Mimos fokus pada cyberspace security, Encryption System, Grid Computing, Communication Technology, Micro Energy, Micro System, Advance Informatics, Knowledge Technology.<br />
 Penelitian MIMOS fokus kepada pengembangan technology platform yang akan digunakan oleh Industri lokal untuk pengembangan produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Harapannya adalah MIMOS dapat membantu industri di Malaysia untuk dapat bermain pada global market. Sehingga industri lokal dapat fokus pada membangun brand dan  jaringan distribusi tanpa harus melakukan penelitian terhadap pengembangan produk baru yang cukup memakan waktu lama.<br />
 <br />
TANTANGAN<br />
 <br />
Untuk menghadapi persaingan yang semakin tajam dalam era globalisasi maka pengembangan sumber daya manusia (SDM) haruslah menjadi top priority dan menjadi komitmen bersama. Untuk itu kolaborasi dari semua unsur sangatlah diharapkan baik pemerintah, industri, dan institusi pendidikan sendiri. Semua arah kebijakan haruslah made by design bukan by default  dan tentu saja diperlukan konsistensi dari implementasi kebijakan tersebut.<br />
 <br />
Indikator-indakator seperti GCI, HDI dan DOI untuk Indonesia beberapa tahun terakhir tentu linier dengan proses pembangunan manusia yang dilakukan melalui berbagai program pembangunan. Dan indeks ini merupakan sebuah raport pembangunan manusia yang dicapai oleh pemerintah dan bangsa Indonesia. Deskripsi kuantitatif tersebut dapat menyadarkan semua elemen bangsa mulai dari pemerintah, kampus dan industri sendiri agar dapat bangkit mengejar ketertinggalan sehingga terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur bukan semakin menjauh dari sasaran. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh kita semua yang peduli terhadap pembentukan SDM Indonesia yang berkualitas.<br />
 <br />
 <br />
Jakarta, 20 Maret 2010<br />
 <br />
Salam,<br />
 <br />
Muhammad Awaluddin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=468</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Never Say No to Customer&#8217;s Request</title>
		<link>http://mawaluddin.info/?p=459</link>
		<comments>http://mawaluddin.info/?p=459#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 12:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mawaluddin.info/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Bila ada pertanyaan bagaimana cara Divisi Access untuk bisa outperform di 2010 ini, jawabannya sederhana saja, &#8220;Never say no to DC&#8217;s request&#8221;!, demikian ditegaskan M. Awaluddin, Executive General Manager Divisi Access ketika ditemui di ruang kerjanya untuk berbincang-bincang sekilas mengenai strategi Divisi Access untuk bisa out of the box di tahun ini.
Kalimat kunci untuk menjelaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila ada pertanyaan bagaimana cara Divisi Access untuk bisa outperform di 2010 ini, jawabannya sederhana saja, &#8220;Never say no to DC&#8217;s request&#8221;!, demikian ditegaskan M. Awaluddin, Executive General Manager Divisi Access ketika ditemui di ruang kerjanya untuk berbincang-bincang sekilas mengenai strategi Divisi Access untuk bisa out of the box di tahun ini.</p>
<p>Kalimat kunci untuk menjelaskan komitmen tersebut adalah bagaimana kita mengkonkritkan dukungan untuk DC (Delivery Channel), jelas Awaluddin. Kenapa begitu? Ya karena yang mencari uang secara riil ke pelanggan adalah unit DC. Kalau dikembalikan ke konsep awal, Divisi Access yang notabene adalah divisi infrastruktur atau juga kita kenal dengan istilah PO (Product Owner) harus memberi support penuh pada 5 segmen DC, yaitu segmen enterprise, retail atau konsumer, business atau SME, OLO/wholesale, dan public services. Merekalah yang memberikan kontribusi revenue kepada perusahaan.</p>
<p>Jadi jelas sekali batasan dan peranannya disini. &#8220;Outperform kita berarti outperform-nya DC, demikian juga sebaliknya, DC tidak bisa outperform kalau salah satu saja pendukungnya tidak outperform&#8221; jelasnya. Sekali kita punya shortage atau handicap dalam mendukung DC maka sudah dipastikan DC pun tidak akan bisa maksimal performansinya.</p>
<p>Salah satu shortage yang mungkin terjadi adalah kekurangan dalam posisi divisi infrastruktur/PO untuk dapat mempercepat akselerasi penjualan (sales). Dalam hal ini, setiap sales scenario seharusnya didukung dengan supply scenario yang relevan. Menyikapi sinkronisasi konsep leading demand dan leading supply yang sering muncul dalam berbagai diskusi, Awaluddin menyatakan bahwa leading supply justru bermanfaat untuk mendukung penjualan DC. &#8220;Buat orang infrastruktur, kita harus leading supply, selama itu bisa di-consider dengan proyeksi dan planning demand dan sales yang matang,&#8221; jelas Awaluddin. &#8220;Bagaimana mungkin sales bisa terdukung kalau tidak leading supply&#8221;, terangnya. Yang harus dipastikan disini adalah terjalinnya koordinasi yang bagus antara PO dan DC. Dari situlah muncul istilah &#8220;never ending JPS&#8221;, kurang lebihnya dimaksudkan untuk memastikan sinkronnya upaya-upaya pemenuhan kebutuhan DC sesuai requirement yang mereka ajukan.</p>
<p>Selanjutnya adalah bagaimana DIVA bisa menjamin sebuah service level quality (customer satisfaction) pada DC. Persoalan yang muncul sebetulnya bukan sekedar konsep sales saja, tapi lebih kepada konsep caring. Bagaimana menjamin kekuatan rekan-rekan DC yang berada di front line yang diharapkan tidak lagi menggunakan ilmu silat atau ilmu ngeles, demikian Awaluddin mengistilahkan. Karena ketika infrastruktur tidak siap memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, DC akan memberikan berbagai excuses pada pelanggan untuk menutupi itu. &#8220;Ini artinya kita bicara sebuah ketidakkonsistenan dalam hal pelayanan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Yang menjadi tujuan kita adalah DC dapat percaya diri dengan dukungan infrastruktur yang baik dalam memberikan pelayanan yang memuaskan pada pelanggannya, ujarnya. Dengan demikian, ketika kepuasan makin meningkat, pelanggan pun akan serta merta me-utilisasi produk-produk kita dan itu artinya tentu saja peningkatan revenue.</p>
<p><strong>Menuju DIVA establishment 2011</strong></p>
<p>Sedikit flashback ke awal pembentukan DIVA yang baru berumur satu semester ini, Awaluddin menjelaskan bahwa pembentukan DIVA berawal dari adanya pergeseran teknologi yang terjadi di dunia yang menyebabkan hampir semua telco (telecommunication company) yang semula bermain di mono play (telephone) beralih ke multiplay (telephone, internet, media, edutainment). Maka kini yang diperlukan adalah infrastruktur yang bukan lagi narrowband, tapi broadband, yang diharapkan dapat tumbuh pesat hingga mencapai 6,6 juta pelanggan dan pendapatan mencapai US$ 1.5 Milyar pada 2013. Pertumbuhan bisnis broadband dan TV based service sangat tergantung pada ketersediaan infrastruktur fixed service (wireline). DIVA lahir dengan format kendali tersentralisasi yang didesain untuk menajamkan penyediaan akses last mile ke rumah-rumah pelanggan dan seluruh HRB.</p>
<p>Agar divisi baru ini dapat segera berjalan dengan optimal dan bisa mewujudkan pencapaian rencana strategic goal-nya maka dilakukanlah berbagai upaya yang mendukung segera established-nya Divisi Access ini. Dengan mengadopsi konsep lean operation methodology yang dikenalkan oleh McKinsey, Awaluddin mencoba menghilangkan aktivitas-aktivitas dalam implementasi operasional yang waste seperti hal-hal yang membuat menjadi tidak produktif, sulit diukur, dll. Penerapan metode ini beranjak dari hasil pengukuran dalam initial performance diagnostic (IPD) yang cukup mengejutkan pada pertengahan tahun 2009 lalu dimana 66% aktivitas operasional akses dapat dikategorikan adalah wasting activities.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan wake up call dan harus segera kita ubah dan perbaiki,&#8221; tegas Awaluddin. Upaya perbaikan itu bukan hanya pembenahan organisasi, tetapi yang sangat penting justru bagaimana kita mengubah mindset dan behaviour seluruh jajaran Access.</p>
<p>Soal menggeser mindset dan behaviour dalam konteks melayani pelanggan ini menjadi hal yang sulit dilakukan ketika tidak ada kemauan dan kesadaran dari setiap personil Access untuk berubah. Memang, ketika belum terbentuknya DIVA, jajaran Access begitu identik dengan pasukan backroom yang menunggu feeding dari jajaran frontroom yang berada di plasa-plasa, customer service representatives, outlet, dll. Sekarang sudah dilebur jadi tidak boleh lagi anggapan bahwa jajaran Access adalah jajaran backroom. &#8220;Walaupun yang menjadi pelanggan kita juga adalah jajaran DC, tapi seluruh aktivitas pelayanan yang kita berikan pada pelanggan baik DC maupun pelanggan eksternal menjadi potret service culture kita untuk memberikan yang terbaik,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Satu hal yang juga harus dicermati adalah perubahan infrastruktur akses yang bergeser dari multiplatform menjadi single platform. Dalam konteks ini kita mencoba mengarahkan pada broadband culture. mengubah mindset dan behavior kawans akses yg kita sebut dengan brodband kultur. Perwujudan dari kultur ini berujung pada tuntutan kebutuhan skill dan kompetensi yang berbasis brodband services. &#8220;Tentu saja akhirnya jajaran Acces harus berada di area high skill jobs dimana selalu dilakukan pendekatan-pendekatan terhadap teknologi baru sehingga setiap orang memiliki value added yang dibutuhkan,&#8221;demikian Awaluddin menerangkan.</p>
<p>Dengan berbagai penataan dalam tubuh DIVA serta upaya komunikasi yang intensif dan koordinasi yang baik, diharapkan DIVA dapat established di awal tahun 2011. Dalam artian, seluruh aktivitas operasional telah dapat terukur dan bisa memaksimalkan kontribusinya pada peningkatan performansi perusahaan.</p>
<p><strong>Support dari semua pihak<br />
</strong><br />
Untuk menjamin kemampuan manuver jajaran DIVA yang handal tentu saja perlu dukungan banyak pihak. Salah satu hal yang mandatory harus dilakukan adalah IT Integration. &#8220;Kita melihat setelah dibentuknya DIVA, baru kita menyadari bahwa selama ini aspek-aspek IT terdesentralisasi. Itu costly sekali,&#8221; ungkapnya. Masing-masing region mengelola IT sendiri-sendiri dengan platform yang tidak standar. Pengelolaan yang sangat teritorial dan geography based ini bisa terjadi karena memang kondisi struktur organisasi kala itu menuntut model yang demikian. &#8220;Untuk itu dukungan penuh dari IS Center sudah pasti sangat diharapkan untuk bisa menstandarkan platform IT yang terintegrasi,&#8221;pinta Awaluddin.</p>
<p>Masih terkait dengan upaya pengelolaan infrastruktur access modern yang excellent menuntut ketersediaan SDM yang memiliki kompetensi yang handal. Setiap jajaran opoerasional DIVA sudah seharusnya memahami dengan benar pentingnya pengelolaan dan ketersediaan jaringan akses yang modern Apalagi dengan teknologi network yang sudah berbasis IP tentu saja membutuhkan kompetensi baru dari yang ada sebelumnya. HR Center dan Learning Center sangat diharapkan perannya untuk bisa meng-upgrade kompetensi teknologi berbasis TDM (Time Division Multiplexing) menjadi IP based dan akhirnya akan dapat menyempitkan gap kompetensi yang terjadi.</p>
<p>Momentum DIVA sesungguhnya adalah melakukan transformasi mendasar didalam pengelolaan akses. Desain yang ada sekarang betul-betul berbeda dari sebelumnya. Ini membutuhkan satu perubahan yang besar dan dituntut kesiapan seluruh jajaran atas berbagai konsekuensi yang timbul. Untuk itu dibutuhkan kesadaran untuk bersama mendukung upaya pembenahan karena ujungnya juga toh demi kemajuan perusahaan.</p>
<p>Di akhir perbincangan Awaluddin menyampaikan harapannya kepada seluruh jajaran Access untuk menjaga agar tidak terjadi eksklusivitas bagi organisasi dan personil jajaran Access, seperti munculnya silo-silo, dll. Dalam kegiatan sehari-haripun koordinasi harus ditingkatkan penuh. &#8220;Jalankan fungsi penuh sebagai PO Access dan tingkatkan sensitivitas dalam melayani unit-unit DC seperti retail, enterprise, SME, dan wholesale,&#8221; tegasnya. Yang tak kalah penting juga, inovasi dan kreativitas di DIVA merupakan satu keharusan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mawaluddin.info/?feed=rss2&amp;p=459</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

